Profil

SI BISUK NAOTO

×

SI BISUK NAOTO

Sebarkan artikel ini
SI BISUK NAOTO

Oleh : H Syahrir Nasution

Ada satu ungkapan dari tanah Mandailing yang hingga kini masih relevan untuk direnungkan dalam kehidupan bermasyarakat, yakni “Bisuk Naoto.” Ungkapan ini memiliki makna yang cukup dalam apabila ditempatkan dalam konteks kehidupan sosial, terutama bagi masyarakat yang menjunjung tinggi aturan, adat, sopan santun, serta nilai-nilai kebaikan.

Secara sederhana, “Bisuk” dapat dimaknai sebagai baik hati, sedangkan “Naoto” secara harfiah dapat diartikan sebagai bodoh. Namun, pemaknaan terhadap ungkapan ini tidak semestinya dipahami secara dangkal sebagai penghinaan terhadap seseorang.

Justru di dalamnya terdapat sebuah kritik sosial sekaligus nasihat kehidupan.

“Bisuk Naoto” menggambarkan seseorang yang memiliki hati baik, suka menolong, menjaga perasaan orang lain, dan memilih menghindari pertengkaran. Namun, apabila kebaikan tersebut tidak disertai kecermatan, ketegasan dan kemampuan membaca keadaan, seseorang dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh orang lain.

BACA JUGA  KEKUASAAN TANPA MORAL AKAN MEMBAWA KEHANCURAN

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang terlalu percaya kepada orang lain hanya karena ingin menjaga hubungan baik. Ada yang enggan mengatakan “tidak” meskipun dirinya dirugikan. Ada pula yang memilih diam ketika haknya diabaikan karena takut dianggap tidak baik atau tidak menghargai orang lain.

Di sinilah makna “Bisuk Naoto” menjadi penting.

Baik hati bukan berarti harus kehilangan ketegasan. Sopan bukan berarti harus selalu mengalah. Memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan terus berulang. Dan menjaga hubungan baik bukan berarti membenarkan sesuatu yang salah.

Masyarakat yang berpegang pada adat dan aturan tentu membutuhkan keseimbangan antara hati yang baik dengan pikiran yang jernih.

BACA JUGA  AJO: Sapaan Yang Memanggil Pulang Ingatan

Kebaikan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kelemahan. Sebaliknya, kecerdasan tanpa hati nurani juga dapat berubah menjadi kesombongan dan kesewenang-wenangan.

Karena itu, ungkapan “Bisuk Naoto” sesungguhnya dapat menjadi cermin bagi kita semua. Jangan sampai seseorang menganggap dirinya telah berbuat baik, tetapi pada saat yang sama justru memberikan ruang kepada orang lain untuk mempermainkan kepercayaannya.

Dalam kehidupan sosial, kita memang dituntut untuk menjadi manusia yang baik. Tetapi menjadi manusia baik tidak berarti harus menjadi manusia yang mudah dibodohi.

Kita boleh lembut, tetapi harus tegas. Kita boleh memaafkan, tetapi tetap harus belajar. Kita boleh percaya, tetapi tetap perlu waspada.

Nilai-nilai seperti inilah yang membuat ungkapan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan modern. Sebab zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi persoalan manusia—tentang kepercayaan, kebaikan, kepentingan dan bagaimana memperlakukan sesama—tetap akan selalu ada.

BACA JUGA  Farianda Pertegas Makna Ungkapan Minang “Basamo Mangko Manjadi”

Maka “Bisuk Naoto” jangan dipahami sebagai sebuah hinaan.

Sebaliknya, jadikan ia sebagai peringatan agar kebaikan hati tidak kehilangan akal sehat, dan kecerdasan tidak kehilangan hati nurani.

Sebab dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi baik memang penting. Tetapi menjadi baik dengan tetap memiliki kebijaksanaan jauh lebih penting.