Ekonomi

Ekspansi Data Center Butuh Listrik Andal, Siapa Emiten yang Berpeluang Diuntungkan?

×

Ekspansi Data Center Butuh Listrik Andal, Siapa Emiten yang Berpeluang Diuntungkan?

Sebarkan artikel ini
Ekspansi Data Center Butuh Listrik Andal, Siapa Emiten yang Berpeluang Diuntungkan?
Ilustrasi AI ; Jaringan transmisi listrik. Pasokan listrik yang andal menjadi faktor penting dalam ekspansi data center, sekaligus membuka peluang bagi emiten pemasok energi dan pengembang kawasan industri.

JAKARTA | Titik24.com

Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) ditutup melemah 1,66% menjadi Rp2.370, sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) stagnan di Rp1.055 pada perdagangan Senin, 28 September 2026. Kedua emiten memiliki keterkaitan dengan bisnis data center yang peluang pertumbuhannya turut bergantung pada kesiapan pasokan listrik.

Kebutuhan listrik tersebut membuka peluang bagi perusahaan di sepanjang rantai bisnis pusat data, mulai dari operator fasilitas, pemasok energi, hingga pengembang kawasan industri. Namun, manfaat yang diterima setiap emiten bergantung pada kontrak dan kontribusi pendapatan yang dapat direalisasikan.

Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam laporan _Tesis Energi Data Center_ yang terbit September ini menempatkan keandalan energi sebagai faktor penting dalam persaingan menarik investasi pusat data.

“Indonesia tidak harus menawarkan tarif listrik termurah untuk bersaing sebagai lokasi data center,” tulis Liza dalam laporan tersebut.

Bagi perusahaan teknologi yang mengoperasikan pusat data berskala besar, Kiwoom menilai pasokan listrik perlu tersedia sepanjang waktu, dapat ditambah sesuai kebutuhan, dan cepat diperoleh. Ketersediaan lahan, jaringan serat optik, serta kepastian regulasi turut menentukan daya tarik lokasi.

BACA JUGA  TPID Sumut Intervensi Pasar, Harga Cabai Merah Turun Jadi Rp55 Ribu dan Ayam Rp35 Ribu per Kg

Keandalan itu memiliki konsekuensi biaya. Operator perlu menyiapkan jaringan, listrik cadangan, sistem pendinginan, dan pasokan air untuk menjaga layanan.

“Biaya produksi listrik yang murah belum tentu menghasilkan biaya listrik 24/7 yang murah bagi data center,” tulis Kiwoom.

Dari sisi pemasok energi, laporan tersebut menyoroti PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR). Kiwoom mencatat data center menyumbang 12% dari energi yang dijual POWR pada semester I 2026.

“POWR memiliki bukti paling nyata bahwa pertumbuhan data center telah menaikkan penjualan listrik di kawasan industri Jabodetabek,” tulis Kiwoom.

Meski demikian, laporan itu mengingatkan bahwa POWR tidak otomatis menjadi penerima manfaat terbesar dari seluruh rantai bisnis pusat data. Kontribusi tersebut perlu dilihat perkembangannya melalui kontrak baru, tambahan kapasitas yang tersambung, serta peningkatan pendapatan dari pelanggan data center.

Peluang juga terbuka bagi pengembang kawasan industri. Kiwoom memasukkan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) dalam kelompok penerima manfaat melalui lahan dan utilitas.

Keberadaan pasokan listrik, air, pengolahan limbah, dan konektivitas dapat memperkuat daya tarik kawasan bagi investor pusat data. Pendapatan pengembang dapat berasal dari penjualan lahan maupun layanan kawasan, sesuai kegiatan usaha dan kontraknya.

BACA JUGA  IHSG Anjlok hingga Trading Halt, Apakah Tabungan Masyarakat Kecil Ikut Terdampak?

“Keempat emiten dapat memperoleh pendapatan dari penjualan lahan serta layanan air, pengolahan limbah, keamanan, fiber dan utilitas lainnya,” tulis Kiwoom.

Namun, kapasitas proyek yang dibangun pelanggan tidak dapat langsung digunakan untuk menggambarkan besarnya pendapatan pengembang kawasan.

“Kapasitas MW adalah milik operator data center, bukan pendapatan emiten kawasan industri,” tulis laporan tersebut.

Di kelompok operator, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), DSSA, dan TLKM memiliki hubungan langsung dengan penyediaan kapasitas serta layanan pusat data. Bagi kelompok ini, akses listrik menentukan kelancaran ekspansi dan kemampuan menyerahkan kapasitas kepada pelanggan.

“Kelangkaan listrik dapat memperkuat posisi DCII, tetapi juga menambah biaya dan menunda ekspansi,” tulis Kiwoom.

Karena itu, investor perlu memantau keterisian fasilitas, kontrak pelanggan, dan hasil belanja modal. Pada DSSA, laporan tersebut menempatkan pengoperasian SMX01 serta pengungkapan pendapatan dan laba data center secara terpisah sebagai hal yang perlu diperhatikan.

Untuk TLKM, Kiwoom menyoroti kombinasi layanan pusat data, cloud, jaringan serat optik, dan posisi Batam sebagai penghubung Indonesia–Singapura. Realisasi fasilitas dan kontribusi bisnisnya tetap perlu dibedakan dari rencana pengembangan.

BACA JUGA  Resmi Pimpin BI Sumut, Ameriza Ma’aruf Moesa Dikukuhkan Destry Damayanti, Bobby Nasution Titip Pesan

“Kapasitas yang dirancang dan sudah beroperasi tidak boleh disamakan,” tulis Kiwoom.

Sementara itu, peluang pada sejumlah emiten energi masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Kiwoom mengaitkan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan rencana pasokan energi terbarukan untuk NeutraDC Nxera Batam. Dalam laporan tersebut, kerja sama itu masih berada pada tahap kesepakatan awal.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dikaitkan dengan kajian pengembangan data center berbasis panas bumi. Adapun PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dinilai berpotensi memperoleh manfaat apabila pertumbuhan pusat data di Batam meningkatkan penggunaan pembangkit gas.

Untuk kelompok tersebut, perkembangan menuju kontrak komersial, kepastian pelanggan, jadwal operasi, dan kontribusi pendapatan menjadi ukuran penting dalam menilai peluang.

Kiwoom juga mencatat risiko keterlambatan penyambungan listrik, kenaikan biaya konstruksi, keterbatasan air, serta tekanan neraca akibat belanja modal besar. Besarnya rencana kapasitas perlu diuji terhadap kemampuan pendanaan dan permintaan pelanggan.

“Utamakan permintaan yang sudah terikat kontrak, kapasitas yang telah beroperasi, tingkat keterisian, kontribusi laba dan kemampuan neraca membiayai ekspansi,” tulis Kiwoom.*(Red01)*