JAKARTA | Titik24.com
Jagat media sosial kembali diramaikan polemik sikap para mega-influencer Tanah Air di tengah krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kali ini, presenter Sarah Sechan menjadi sorotan setelah melontarkan komentar bernada satire terkait besarnya jumlah pengikut para pesohor di media sosial.
Polemik tersebut bermula dari utas viral yang diunggah warganet Malaysia, Mustapha Shabri. Ia mempertanyakan besarnya pengaruh para influencer Indonesia, termasuk Raffi Ahmad, Ria Ricis, dan Atta Halilintar, jika popularitas mereka tidak diikuti suara publik mengenai krisis asap akibat karhutla.
Komentar tersebut kemudian mengundang perhatian Sarah Sechan. Ia menanggapi kritik itu dengan pernyataan bernada sindiran yang mengaitkan besarnya jumlah pengikut para influencer dengan kontestasi politik nasional.
Menurut kutipan yang beredar, Sarah menulis, “Berguna untuk membantu memilih presiden yang sekarang.”
Pernyataan itu pun memantik beragam reaksi warganet. Sebagian menilai sindiran tersebut menyoroti besarnya pengaruh figur publik dalam membentuk opini dan pilihan politik masyarakat. Sementara itu, perdebatan juga berkembang mengenai tanggung jawab sosial para pesohor ketika persoalan lingkungan menjadi perhatian publik.
Sindiran Sarah Sechan Picu Perdebatan
Komentar Sarah Sechan tidak hanya memunculkan dukungan, tetapi juga memancing perbedaan pendapat di kalangan pengguna media sosial.
Sejumlah warganet menilai figur publik dengan jutaan pengikut memiliki ruang yang besar untuk membantu menyebarkan informasi, meningkatkan kepedulian masyarakat, dan mendorong perhatian terhadap persoalan lingkungan.
Di sisi lain, muncul pula pandangan bahwa setiap figur publik memiliki kebebasan menentukan isu yang ingin mereka sampaikan melalui akun pribadi masing-masing.
Perdebatan tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas media sosial para pesohor kini tidak hanya dinilai dari sisi hiburan dan bisnis, tetapi juga dari pengaruh mereka terhadap isu sosial, lingkungan, hingga politik.
Meski demikian, penilaian terhadap sikap masing-masing influencer perlu mempertimbangkan informasi yang terverifikasi, bukan semata-mata berdasarkan anggapan bahwa mereka tidak pernah menyuarakan persoalan tersebut.
Mega-Influencer dan Tanggung Jawab Sosial
Besarnya jumlah pengikut membuat para influencer memiliki jangkauan komunikasi yang luas. Dalam situasi krisis, platform media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi resmi, mengedukasi masyarakat mengenai dampak asap, maupun menggalang dukungan bagi warga terdampak.
Karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan kabut asap, mengganggu aktivitas masyarakat, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan kerugian ekonomi.
Karena itu, dorongan agar figur publik turut menyuarakan persoalan tersebut menjadi bagian dari perdebatan mengenai tanggung jawab sosial di era digital.
Namun, apakah seorang influencer wajib menyampaikan pendapat tentang setiap persoalan publik tetap menjadi perdebatan tersendiri. Pengaruh yang besar dapat membuka peluang untuk berkontribusi, tetapi pilihan untuk berbicara atau tidak berbicara juga perlu dilihat dalam konteks yang utuh.
Komentar Sarah Sechan pada akhirnya kembali memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana popularitas di media sosial seharusnya diikuti kepedulian terhadap persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas?*(Red01)*





