JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak pada Selasa, 1 September 2026, setelah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pasokan energi dari Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, sempat naik lebih dari 2 persen dan diperdagangkan di kisaran US$92 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga menguat mendekati US$88 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pertukaran serangan kembali terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini membuat pelaku pasar mencemaskan kemungkinan terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, salah satu pusat produksi energi terbesar dunia.
Perhatian pasar terutama tertuju pada keamanan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz, kawasan strategis yang selama ini menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Ketegangan militer di kawasan tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap pengiriman energi dan memperbesar apa yang dikenal pasar sebagai risk premium atau tambahan risiko dalam harga minyak.
Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada pasar energi. Kekhawatiran terhadap inflasi kembali meningkat karena kenaikan harga minyak berpotensi mendorong biaya transportasi, produksi, dan harga barang konsumsi.
Tekanan tersebut langsung terasa di pasar keuangan global. Harga obligasi pemerintah mengalami aksi jual, sementara imbal hasil obligasi meningkat karena investor memperhitungkan kemungkinan inflasi yang lebih tinggi serta peluang bank sentral mempertahankan atau kembali menaikkan suku bunga.
Di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun dilaporkan naik hingga mendekati 4,8 persen, sementara pasar saham turut tertekan. Indeks saham utama AS melemah, dengan saham-saham teknologi termasuk yang paling terdampak oleh kenaikan imbal hasil obligasi.
Tekanan juga meluas ke pasar Eropa dan Asia. Investor menghadapi kombinasi kekhawatiran geopolitik, kenaikan harga energi, serta kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Penguatan harga minyak pada awal September ini menambah ketidakpastian bagi perekonomian global yang sebelumnya mulai menghadapi tekanan dari tingginya biaya pinjaman dan perlambatan di sejumlah negara.
Pasar kini menunggu perkembangan selanjutnya dari konflik AS-Iran. Jika ketegangan meningkat dan distribusi minyak dari Timur Tengah benar-benar terganggu, harga energi berpotensi kembali mengalami kenaikan dan memberikan tekanan baru terhadap inflasi dunia.
Sebaliknya, setiap perkembangan diplomatik yang mampu meredakan konflik diperkirakan akan menjadi faktor penting untuk menenangkan pasar energi dan keuangan global





