BALI | Titik24.com
Dugaan penjualan bensin eceran dengan harga selangit menjadi sorotan di tengah keluhan masyarakat mengenai sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM) di Bali. Dalam unggahan media sosial, bensin sebanyak 1,5 liter disebut ditawarkan dengan harga Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.
Informasi tersebut beredar melalui platform Threads pada Rabu (14/10/2026). Seorang pengguna dengan akun @ynn**** mengungkapkan dugaan praktik penjualan bensin oleh pengemudi ojek online (ojol) kepada wisatawan asing maupun warga sekitar.
Unggahan itu menuai perhatian karena harga yang disebutkan jauh di atas harga normal BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Apa pendapat kalian? Ojol tidak lagi menawarkan tumpangan, tapi menawarkan petrol yang dibanderol dengan harga tinggi. Bayangin aja, 1,5 L dijual 100–200 ribu,” tulis akun tersebut.
Dalam unggahan yang beredar, bensin disebut dikemas menggunakan botol air minum dan ditawarkan kepada orang yang membutuhkan bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan.
Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Belum diketahui secara pasti lokasi kejadian, identitas pihak yang menawarkan bensin, maupun apakah transaksi dengan harga yang disebutkan benar-benar terjadi.
Sorotan mengenai harga bensin eceran ini muncul ketika masyarakat di sejumlah wilayah Bali mengeluhkan antrean panjang di SPBU. Warga dilaporkan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar di tengah meningkatnya kebutuhan pengendara.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali menyatakan persediaan Pertalite dan Pertamax mencukupi untuk kebutuhan sekitar dua pekan. Meski demikian, distribusi BBM dari depo menuju SPBU disebut mengalami hambatan seiring meningkatnya jumlah kendaraan yang datang untuk mengisi bahan bakar.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa ketersediaan stok di tingkat depo belum tentu membuat BBM mudah diperoleh masyarakat di setiap SPBU. Kendala distribusi dan meningkatnya permintaan dapat memengaruhi waktu tunggu konsumen.
Dalam kondisi seperti itu, penjualan bensin eceran dapat menjadi alternatif bagi pengendara yang membutuhkan bahan bakar segera. Namun, apabila harga yang ditawarkan jauh melampaui harga normal, masyarakat dan wisatawan berpotensi menanggung beban pengeluaran yang lebih besar.
Selain persoalan harga, keamanan penjualan bensin juga perlu diperhatikan. Bensin merupakan cairan yang mudah terbakar sehingga penyimpanan dan pengangkutannya harus menggunakan wadah yang sesuai serta memperhatikan aspek keselamatan.
Hingga informasi ini disusun, belum ada konfirmasi independen mengenai dugaan penjualan bensin seharga Rp100 ribu hingga Rp200 ribu untuk 1,5 liter tersebut. Tanggapan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan praktik penjualan itu juga belum tersedia dalam informasi yang menjadi dasar pemberitaan ini.
Karena itu, informasi yang beredar di media sosial perlu ditelusuri lebih lanjut sebelum dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pelanggaran atau menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
Di tengah keluhan masyarakat mengenai akses BBM, kelancaran distribusi dan transparansi informasi menjadi faktor penting. Pengawasan yang memadai juga diperlukan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan praktik penjualan yang tidak wajar.
Titik24.com akan terus mengikuti perkembangan persoalan ini, termasuk apabila terdapat keterangan resmi dari pemerintah daerah, pihak penyedia BBM, maupun otoritas terkait.*(Red01)*





