DELI SERDANG | titik24 — Kemacetan parah kembali menjadi persoalan bagi pengguna Jalan Veteran Pasar 9, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Pada Rabu (14/10/2026) malam, antrean kendaraan di kawasan tersebut terpantau mencapai sekitar satu kilometer atau lebih, menyusul pekerjaan perbaikan jalan yang belum tuntas.
Pantauan di lokasi menunjukkan pengguna jalan harus menghadapi kepadatan arus lalu lintas saat melintasi ruas jalan yang sedang diperbaiki. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan pekerjaan rehabilitasi jalan yang dilaksanakan Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya (BMBKCK) Provinsi Sumatera Utara.
Persoalannya bukan sekadar jalan yang rusak, melainkan juga dampak pekerjaan perbaikan terhadap mobilitas masyarakat. Jalan yang diharapkan memberikan akses transportasi lebih baik justru menjadi titik kemacetan ketika pekerjaan belum selesai dan ruang bagi kendaraan untuk melintas terbatas.
Berdasarkan pemberitaan sejumlah media pada 10–12 Oktober 2026, sebagian badan jalan dilaporkan telah dicor beton, tetapi masih ditutup dengan pembatas sehingga belum dapat dilalui kendaraan. Akibatnya, arus kendaraan harus melewati sisi jalan lainnya.
Kondisi tersebut mempersempit ruang gerak kendaraan, terutama ketika sepeda motor, mobil pribadi, dan truk melintas secara bersamaan. Kepadatan pun berpotensi meluas ke jalan alternatif di sekitar lokasi yang kapasitasnya lebih terbatas.
Proyek Hampir Rp5 Miliar
Persoalan ini menjadi perhatian karena perbaikan Jalan Veteran Pasar 9 bukan sekadar pekerjaan pemeliharaan biasa. Berdasarkan informasi yang diberitakan sejumlah media, proyek rehabilitasi jalan tersebut memiliki nilai kontrak Rp4.947.848.525 atau hampir Rp5 miliar.
Pekerjaan itu disebut dilaksanakan PT Putra Raiandra Energi berdasarkan kontrak Nomor 620/1161/UPTD-BMCK.MDN/VIII/2026.
Informasi mengenai nilai kontrak dan pelaksana proyek tersebut masih perlu dicocokkan dengan dokumen resmi pengadaan. Begitu pula dengan masa pelaksanaan, target penyelesaian, dan progres pekerjaan yang telah dicapai.
Hingga kini, persoalan yang perlu dijelaskan kepada publik adalah mengapa pekerjaan belum tuntas, berapa lama lagi masyarakat harus menghadapi gangguan lalu lintas, serta kapan jalan dapat kembali digunakan secara normal.
Azmi Hadly Minta Dinas Transparan
Menanggapi kondisi tersebut, Kordinator Nasional Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KAMAK), Azmi Hadly menilai perbaikan jalan memang sangat dibutuhkan masyarakat. Namun, menurutnya, pelaksanaan proyek juga harus direncanakan dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi pengguna jalan.
“Kita memahami bahwa pekerjaan konstruksi membutuhkan waktu. Tetapi, ketika pekerjaan berlangsung dan kemacetan sampai mencapai sekitar satu kilometer atau lebih, seperti yang terlihat di Jalan Veteran Pasar 9 malam ini, kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa,” ujarnya.
Azmi meminta Dinas BMBKCK Sumut menjelaskan secara terbuka perkembangan pekerjaan, target penyelesaian, serta kendala yang menyebabkan arus lalu lintas terganggu.
Menurutnya, nilai proyek yang hampir mencapai Rp5 miliar membuat transparansi pelaksanaan pekerjaan menjadi penting, terutama untuk memastikan bahwa pengerjaan berlangsung sesuai jadwal dan spesifikasi yang ditetapkan.
“Anggaran yang digunakan adalah uang negara. Karena itu, hasil pekerjaan harus sebanding dengan manfaat yang diterima masyarakat. Jangan sampai masyarakat sudah lama menderita akibat jalan rusak, kemudian kembali harus menanggung beban kemacetan selama perbaikan berlangsung tanpa kepastian penyelesaian,” katanya.
Azmi juga meminta pemerintah dan kontraktor mengambil langkah konkret untuk mengurangi kemacetan selama pekerjaan berlangsung.
Menurutnya, keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari pekerjaan pengecoran yang telah dilakukan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat setelah proyek selesai.
“Tujuan akhir proyek ini bukan sekadar menyelesaikan pengecoran, melainkan menghadirkan jalan yang aman, layak, dan nyaman digunakan masyarakat,” tegasnya.
Gubernur Pernah Menjanjikan Perbaikan
Sebelumnya, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution meninjau kondisi Jalan Veteran Pasar 9 pada 30 Juli 2026, didampingi Kepala Dinas BMBKCK Sumut, Chandra Dalimunthe.
Dalam pemberitaan resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Bobby menyampaikan bahwa perbaikan direncanakan mulai Agustus 2026. Penanganan awal disebut mencakup sekitar 200 meter pada bagian jalan yang mengalami kerusakan paling parah.
Pemprov Sumut juga merencanakan penggunaan konstruksi beton karena ruas tersebut kerap dilalui kendaraan bertonase besar. Selain itu, pemerintah menyampaikan rencana pelebaran jalan hingga 14 meter dan penanganan drainase sepanjang 24 kilometer.
Rencana tersebut sebelumnya memberikan harapan bagi masyarakat yang telah lama mengeluhkan kerusakan jalan.
Pada Juni 2026, sejumlah media memberitakan keluhan warga mengenai lubang jalan dan genangan air yang membahayakan pengendara. Sejumlah warga bahkan mengungkapkan kepada wartawan adanya beberapa pengendara yang terjatuh akibat tidak melihat lubang yang tertutup air.
Dengan demikian, perbaikan Jalan Veteran Pasar 9 semestinya tidak hanya berorientasi pada penyelesaian konstruksi, tetapi juga memberikan kepastian keselamatan dan kenyamanan bagi pengguna jalan.
Menunggu Kepastian Penyelesaian
Kemacetan yang terpantau mencapai sekitar satu kilometer atau lebih pada Rabu (14/10/2026) memperlihatkan besarnya gangguan mobilitas yang dirasakan pengguna jalan di kawasan tersebut.
Bagi masyarakat yang menggunakan ruas itu untuk bekerja, berdagang, mengangkut barang, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari, waktu yang terbuang di jalan menjadi persoalan tersendiri.
Karena itu, Dinas BMBKCK Sumut perlu menjelaskan perkembangan pekerjaan secara terukur, termasuk persentase progres fisik, sisa pekerjaan, jadwal penyelesaian, dan alasan badan jalan yang telah dicor masih belum dibuka untuk kendaraan.
Penjelasan juga diperlukan mengenai pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung. Kontraktor bersama instansi terkait perlu memastikan bahwa pembatas, rambu peringatan, dan jalur yang tersedia cukup aman bagi pengendara.
Sebab, keberhasilan proyek jalan bukan hanya diukur dari berapa meter beton yang telah dicor atau berapa besar anggaran yang dialokasikan. Ukuran yang paling dirasakan masyarakat adalah terselesaikannya pekerjaan sesuai ketentuan, terjaganya keselamatan selama proses pembangunan, dan pulihnya kelancaran lalu lintas.
Masyarakat kini menunggu kepastian kapan Jalan Veteran Pasar 9 benar-benar dapat dilalui dengan aman dan lancar.





