KUALA LUMPUR | Titik24.com
Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan. Kali ini, seorang warga Malaysia mempertanyakan minimnya perhatian terhadap bencana tersebut, termasuk dari kalangan artis dan influencer Indonesia yang memiliki jutaan pengikut di media sosial.
Dalam sorotannya, ia mengungkapkan keheranan karena persoalan karhutla disebut telah berlangsung selama tiga bulan, tetapi perhatian publik dinilai semakin berkurang. Isu tersebut dianggap mulai tenggelam di tengah maraknya berbagai peristiwa lain yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Sorotan itu turut mengarah kepada sejumlah figur publik Tanah Air, di antaranya Raffi Ahmad, Ria Ricis, dan Atta Halilintar. Ketiganya disinggung karena memiliki jumlah pengikut yang besar, sehingga dinilai berpotensi membantu memperluas jangkauan informasi mengenai persoalan lingkungan tersebut.
Dalam unggahan yang beredar, akun Mustapha Shobri mempertanyakan manfaat besarnya jumlah pengikut para selebritas tersebut apabila tidak dimanfaatkan untuk ikut menyuarakan isu kebakaran hutan di Indonesia.
Ia menyoroti jumlah pengikut Raffi Ahmad yang disebut mencapai 74,9 juta, Ria Ricis 36,7 juta, dan Atta Halilintar 38,1 juta. Angka tersebut merupakan jumlah yang tercantum dalam unggahan yang menjadi sorotan dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Menurut sorotan tersebut, figur publik dengan jangkauan audiens yang luas memiliki peluang besar untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan warga.
Kehadiran artis dan influencer di ruang digital dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan hiburan, promosi produk, maupun aktivitas pribadi. Mereka juga dapat menggunakan platform yang dimiliki untuk menyebarkan informasi mengenai isu sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.
Namun, perhatian terhadap karhutla tidak seharusnya hanya bergantung pada suara selebritas atau tren di media sosial. Persoalan ini membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan, mulai dari upaya pencegahan, pemadaman titik api, pemulihan kawasan terdampak, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.
Di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan informasi yang akurat mengenai perkembangan kebakaran, wilayah terdampak, serta langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dan pihak terkait untuk mengatasinya.
Sorotan warga Malaysia tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan membutuhkan perhatian publik yang konsisten. Ketika sebuah isu mulai kehilangan tempat dalam perbincangan media sosial, bukan berarti persoalannya telah selesai.
Karhutla tetap menjadi tantangan yang memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Dukungan figur publik melalui penyebaran informasi yang terverifikasi dapat membantu menjaga perhatian masyarakat, tetapi harus berjalan beriringan dengan langkah nyata dalam penanganan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.*(Red01)*





