KALIMANTAN TIMUR | Titik24.com
Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah upaya pemadaman yang terus dilakukan, relawan di Kecamatan Siluq Ngurai, Kabupaten Kutai Barat, mengaku kewalahan menghadapi kobaran api akibat keterbatasan peralatan dan pasokan air.
Situasi tersebut terungkap melalui video yang diunggah akun Instagram @saell.nilong pada Minggu (18/10/2026). Dalam rekaman itu, relawan menyampaikan bahwa kobaran api semakin mendekati area pondok ladang milik warga, sementara kemampuan pemadaman di lapangan terkendala minimnya fasilitas pendukung.
Relawan tersebut mengungkapkan permohonan maaf karena belum mampu mengendalikan api secara maksimal. Mereka juga meminta bantuan agar penanganan kebakaran dapat dilakukan dengan dukungan peralatan yang memadai.
“Kami mohon maaf karena kami tidak mampu memadamkan api, dimohon bantuannya karena api sangat luar biasa. Kami sangat kekurangan alat dan lain-lain,” ujar relawan dalam video tersebut.
Ia menjelaskan, kondisi di lapangan semakin sulit dikendalikan karena keterbatasan fasilitas dan perlengkapan pemadaman. Kobaran api masih berlangsung, sementara kemampuan relawan untuk menjangkau dan mengatasi titik kebakaran sangat terbatas.
“Kami sangat membutuhkan bantuan. Situasi tidak terkendali karena kami kekurangan fasilitas dan alat. Api masih berkobar, berdoa semoga segera padam,” jelasnya.
Selain kekurangan peralatan, terbatasnya ketersediaan air juga menjadi kendala serius. Padahal, pasokan air merupakan kebutuhan utama untuk mendukung upaya pemadaman, terutama ketika api terus menyebar dan sulit dikendalikan.
Relawan menyebut seluruh personel telah berupaya semaksimal mungkin untuk memadamkan kebakaran. Namun, keterbatasan sarana dan sumber air membuat usaha tersebut belum membuahkan hasil sesuai harapan.
“Semuanya sudah berusaha sebanyak mungkin, cuma terbatas alat pemadaman, air, dan lain-lain. Mohon doanya,” tambahnya.
Dalam unggahan berikutnya pada Senin (19/10/2026), relawan kembali menyampaikan perkembangan situasi kebakaran. Mereka mengaku hanya bisa memantau kobaran api dari jarak jauh karena tidak lagi mampu melakukan pemadaman secara langsung dengan fasilitas yang tersedia.
“Posisi api masih menyala, kami hanya bisa memantau saja karena sudah tidak sanggup untuk melawan api,” tulis relawan dalam video tersebut.
Di tengah laporan kesulitan pemadaman di Kutai Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur mencatat adanya penurunan luasan lahan yang terbakar pada Oktober 2026 dibandingkan dua bulan sebelumnya.
Plh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kaltim, Tresna Rosano, menyebut luasan karhutla pada Agustus dan September rata-rata mencapai 3.000 hingga 4.000 hektare. Sementara pada Oktober, luasan lahan yang terbakar tercatat sekitar 1.223 hektare.
“Ini sesuai dengan prediksi kita bahwa pada akhir Oktober mulai memasuki musim penghujan,” ujar Tresna saat menjadi pembicara dalam sebuah acara yang membahas karhutla, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, datangnya musim hujan diharapkan dapat membantu mengurangi kebakaran sekaligus menekan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Timur.
Mengacu pada informasi BMKG sebagaimana disampaikan Tresna, kondisi atmosfer dan turunnya hujan menjadi faktor yang dapat membantu mengurangi asap yang terperangkap di udara.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angin kencang dapat mempercepat penyebaran api. Keterbatasan sumber air serta sulitnya akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi hambatan yang harus dihadapi petugas dan relawan.
Kendala tersebut semakin berat apabila kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut atau wilayah yang ditumbuhi vegetasi tinggi. Petugas membutuhkan upaya ekstra untuk mencapai titik api dan memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
“Kondisi itu semakin menyulitkan ketika kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut atau area yang ditumbuhi vegetasi tinggi. Petugas membutuhkan upaya ekstra untuk mencapai titik api dan memastikan kebakaran benar-benar padam,” tukasnya.
Tresna menambahkan, Kabupaten Paser masih menjadi salah satu wilayah dengan kejadian karhutla tertinggi di Kalimantan Timur. Selain Paser, kebakaran juga dilaporkan terjadi di Penajam Paser Utara, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kutai Barat, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Samarinda.
Perbedaan kondisi antara penurunan luasan kebakaran secara keseluruhan dan masih berlangsungnya kebakaran di sejumlah titik menunjukkan pentingnya penanganan yang berkelanjutan. Dukungan peralatan, pasokan air, dan akses menuju lokasi kebakaran menjadi kebutuhan penting agar petugas dan relawan dapat bekerja lebih efektif.*(Red01)*





