MEDAN | Titik24.com – Proyek pemasangan U-Ditch untuk peningkatan sistem drainase di Jalan Gaperta, Kelurahan Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia, menuai kecaman warga. Galian yang diperuntukkan bagi pemasangan beton saluran berbentuk huruf U tersebut dibiarkan terbuka sepanjang ratusan meter di sisi jalan, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan.
Selain membahayakan pengguna jalan, kondisi tersebut juga menghambat akses keluar-masuk rumah, rumah toko (ruko), serta tempat usaha yang berada di sepanjang ruas jalan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Sabtu (11/10/2026), galian parit dengan kedalaman lebih dari satu meter terlihat membentang di sisi jalan tanpa penutupan yang memadai. Material bekas galian, papan proyek, dan tumpukan tanah masih memenuhi sebagian bahu jalan.
Sementara itu, para pekerja terlihat masih melanjutkan penggalian ke arah persimpangan Jalan Amir Hamzah dan kawasan Griya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi warga. Sejumlah pemilik warung dan toko kelontong mengaku mengalami penurunan jumlah pembeli. Bahkan, beberapa di antaranya terpaksa menutup usaha karena akses menuju tempat berjualan semakin sulit.
“Jualan kami jadi sepi. Pembeli takut jatuh, motor tidak bisa naik ke depan toko. Sudah lebih sebulan dikorek, tetapi tidak ditutup,” ujar Siti (nama samaran), seorang pemilik toko di Jalan Gaperta.
Kondisi serupa juga terlihat di depan Masjid Kauman, tempat galian dibiarkan terbuka sehingga mengganggu akses masyarakat yang hendak melintas maupun beraktivitas di sekitar lokasi.
Warga lainnya mengaku khawatir terhadap potensi kecelakaan, terutama ketika hujan turun atau pada malam hari. Galian yang terbuka, ditambah minimnya penerangan dan tanda pengaman, dinilai meningkatkan risiko bagi pejalan kaki maupun pengendara yang melintas.
Warga berharap pelaksanaan proyek tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga memperhatikan keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat selama proses pengerjaan berlangsung.
Proyek Bernilai Rp8 Miliar Disorot
Proyek drainase tersebut merupakan bagian dari program Pemerintah Kota Medan dalam upaya mengatasi banjir dan genangan air di kawasan Helvetia.
Berdasarkan informasi pada papan proyek di lokasi, pekerjaan itu memiliki nilai kontrak sebesar Rp8.008.822.117 atau sekitar Rp8 miliar. Proyek tersebut tercatat menggunakan Nomor Kontrak 013/SP/24.1/APBD/2026, dengan tanggal kontrak 25 Juni 2026 dan masa pelaksanaan selama 173 hari kalender.
Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh CV Amanda Citra.
Meski ditujukan untuk meningkatkan kapasitas drainase dan mengurangi persoalan banjir, pelaksanaan proyek kini menjadi sorotan karena dampaknya terhadap keselamatan serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi.
Forjakumsu Minta Pemko Medan evaluasi pelaksanaan
Ketua Forum Jurnalis Hukum Sumatera Utara (FORJAKUMSU), Andri Syafrin Purba, S.Sos., turut menyoroti pelaksanaan sejumlah proyek infrastruktur yang menjadi prioritas Pemerintah Kota Medan. Menurutnya, proyek-proyek tersebut perlu dievaluasi agar pelaksanaannya di lapangan benar-benar sesuai dengan tujuan pembangunan dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.
Ia menilai proyek drainase di Jalan Gaperta merupakan pekerjaan penting untuk mendukung penanganan banjir. Namun, aspek keselamatan, ketepatan waktu, dan dampak sosial terhadap warga harus tetap menjadi perhatian serius.
“Jangan sampai proyek yang tujuannya baik justru menyengsarakan rakyat kecil. Pedagang di Gaperta tutup toko karena tidak ada akses. Ini yang harus menjadi perhatian serius kontraktor,” tegas Andri.
Ia meminta Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, turun langsung meninjau kondisi di lapangan dan mengevaluasi metode pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Andri juga meminta Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan, Khairul Azmi, S.S.T.P., M.T., menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal dalam mengawasi pelaksanaan proyek.
Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan melalui laporan administratif. Pemeriksaan langsung diperlukan untuk memastikan kondisi riil di lapangan sesuai dengan perencanaan dan standar keselamatan yang semestinya diterapkan.
Selain meminta evaluasi dari pemerintah kota, Andri juga mendorong Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) melakukan pengawasan terhadap proyek-proyek infrastruktur prioritas di Kota Medan, termasuk pekerjaan drainase Jalan Gaperta yang bernilai sekitar Rp8 miliar tersebut.
“Kami minta Wali Kota Medan dan Kejati Sumut turun tangan. Pastikan proyek ini dikerjakan sesuai spesifikasi, sesuai RAB, dan tidak molor. Jika ada dugaan kelalaian yang merugikan masyarakat dan keuangan negara, harus ditindak. Proyek prioritas harus transparan dan diawasi ketat,” ujarnya.
Warga Dukung Pembangunan, tapi minta keselamatan diprioritaskan
Di tengah keluhan yang muncul, warga menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan drainase. Mereka memahami kawasan Gaperta membutuhkan pembenahan karena kerap mengalami banjir dan genangan air.
Namun, warga berharap pelaksanaan proyek dilakukan dengan metode yang tidak mengorbankan keselamatan maupun mata pencaharian masyarakat.
“Kami mendukung pembangunan. Gaperta memang langganan banjir. Tapi tolong jangan korbankan pedagang kecil. Kalau sudah digali, langsung tutup. Kasih jembatan penutup U-Ditch yang aman, jangan dibiarkan menganga,” ujar seorang warga.
Warga berharap kontraktor segera mempercepat tahapan pekerjaan, mengamankan galian yang masih terbuka, serta menyediakan akses sementara yang aman bagi pejalan kaki, pengendara, dan pemilik usaha.
Masyarakat juga berharap Pemerintah Kota Medan melakukan pengawasan langsung agar proyek yang dibiayai dari anggaran publik tersebut dapat diselesaikan sesuai ketentuan, tanpa mengabaikan keselamatan dan kepentingan warga.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek drainase tidak semata-mata diukur dari terpasangnya beton U-Ditch atau berkurangnya genangan air. Pelaksanaan yang tertib, aman, tepat waktu, dan tidak melumpuhkan aktivitas masyarakat juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pembangunan itu sendiri.





