MEDAN — Wajah sumringah terlihat dari sejumlah warga Jalan Mustafa 3, Mustafa 3A, dan Mustafa 3B, Lingkungan 15, Kelurahan Pangkalan Masyur, Kecamatan Medan Johor, dalam beberapa hari terakhir.
Jalan lingkungan yang selama ini mudah becek dan berlumpur ketika diguyur hujan dengan intensitas ringan, kini perlahan berubah. Rekonstruksi jalan yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemko) Medan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan itu kini disebut warga telah mendekati tahap penyelesaian.
Permukaan jalan tersebut kini telah diperkeras menggunakan batako. Pekerjaan yang secara kasatmata sudah mencapai sekitar 85 persen itu mendapat sambutan positif dari masyarakat karena kondisi jalan menjadi jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Namun, di tengah kegembiraan warga menikmati akses jalan yang lebih layak, muncul pula sejumlah pertanyaan.
Berapa nilai pagu anggaran pekerjaan tersebut? Dari mana sumber dananya? Siapa pihak yang mengerjakan? Berapa lama masa pelaksanaannya? Hingga kapan pekerjaan itu ditargetkan selesai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar muncul, terlebih karena sejak pekerjaan dimulai hingga kini nyaris rampung, warga mengaku tidak melihat adanya plang proyek yang memuat informasi mengenai pekerjaan tersebut.
Seorang warga yang baru selesai melaksanakan salat di Masjid Baiturrahman, Jalan Karya Jaya, mengaku telah puluhan tahun berdomisili di Jalan Mustafa. Saat ditanya mengenai pekerjaan yang oleh warga setempat disebut sebagai “proyek batako”, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci informasi proyek tersebut.
“Dari mulai sampai mau siap, tak ada plang proyeknya, Bang. Biasanya di tempat lain yang jalannya lagi diperbaiki, sampai dua atau tiga plang itu berdiri,” ujar pria yang meminta namanya tidak disebutkan.
Menurutnya, keberadaan papan informasi proyek penting agar masyarakat mengetahui pekerjaan yang berlangsung di lingkungan mereka, termasuk pihak pelaksana maupun informasi anggarannya.
Meski demikian, warga lainnya justru mengaku senang dengan hasil pekerjaan tersebut. Seorang ibu rumah tangga paruh baya yang tinggal di kawasan itu mengatakan, rekonstruksi jalan membuat akses di depan rumahnya menjadi lebih baik.
“Itu mandornya dari tadi bolak-balik lewat, Bang. Nggak nampak Abang? Yang naik Scoopy putih. Kalau pekerjanya rata-rata orang daerah Tembung, katanya,” ujar perempuan tersebut.
Ia juga menyebut adanya seorang mandor yang disebut warga mengawasi pekerjaan di lokasi. Namun, ketika dikonfirmasi mengenai pekerjaan rekonstruksi jalan tersebut, termasuk alasan tidak terlihatnya plang proyek, yang bersangkutan belum memberikan jawaban.
Diketahui, Dinas SDABMBK merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah yang memiliki tugas di bidang sumber daya air, infrastruktur jalan, serta jasa konstruksi. Untuk pekerjaan jalan, bidang Bina Marga antara lain menangani pembangunan, peningkatan, dan pemeliharaan jalan serta jembatan.
Di satu sisi, rekonstruksi Jalan Mustafa 3, Mustafa 3A, dan Mustafa 3B tentu menjadi kabar baik bagi warga yang selama ini menggunakan akses tersebut. Jalan yang sebelumnya mudah becek kini telah berubah menjadi lebih layak dilalui.
Namun di sisi lain, transparansi informasi pekerjaan tetap menjadi hal penting. Tanpa papan informasi proyek, masyarakat hanya bisa melihat hasil pekerjaan secara fisik tanpa mengetahui secara jelas siapa pelaksananya, berapa nilai pekerjaan, sumber pembiayaan, maupun jangka waktu pelaksanaannya.
Karena itu, meski pekerjaan fisiknya disebut warga telah mendekati rampung, informasi mengenai proyek tersebut masih menyisakan tanda tanya yang belum terjawab.





