Kesehatan

Kristal Kecil di Telinga yang Menjaga Keseimbangan: Apa yang Terjadi Jika Otoconia Bergeser?

×

Kristal Kecil di Telinga yang Menjaga Keseimbangan: Apa yang Terjadi Jika Otoconia Bergeser?

Sebarkan artikel ini
Kristal Kecil di Telinga yang Menjaga Keseimbangan: Apa yang Terjadi Jika Otoconia Bergeser?

MEDAN, titik24.com | KESEHATAN — Pernah merasa dunia tiba-tiba berputar ketika bangun dari tempat tidur, menoleh, atau mengubah posisi kepala? Salah satu penyebab yang cukup umum adalah gangguan pada sistem keseimbangan di telinga bagian dalam, termasuk ketika kristal kecil yang disebut otoconia berpindah dari tempatnya.

Banyak orang mengenalnya secara sederhana sebagai “batu keseimbangan” atau “batu di telinga”. Namun, kristal tersebut bukan berada di dalam gendang telinga. Otoconia berada jauh lebih dalam, yakni pada organ keseimbangan di telinga bagian dalam.

 

Bukan Batu Biasa

Otoconia merupakan kristal sangat kecil yang terutama tersusun dari kalsium karbonat. Kristal ini berada pada dua struktur telinga bagian dalam yang disebut utrikel dan sakulus, yang dikenal sebagai organ otolit.

Bersama sel-sel sensorik di dalamnya, sistem tersebut membantu tubuh mendeteksi gravitasi serta gerakan kepala secara linear, seperti gerakan maju-mundur, naik-turun, maupun perubahan posisi kepala.

Sementara itu, tiga saluran berbentuk lingkaran yang disebut kanalis semisirkularis lebih berperan mendeteksi gerakan rotasi kepala.

Informasi dari sistem keseimbangan tersebut kemudian dikirim ke otak. Otak menggabungkannya dengan informasi dari penglihatan dan sensor posisi tubuh sehingga seseorang dapat mempertahankan keseimbangan serta mengarahkan pandangan ketika kepala bergerak.

 

Ketika Kristal Bergeser

BACA JUGA  Layani hingga 300 Pasien Sehari, Puskesmas Helvetia Direhabilitasi Total

Dalam kondisi tertentu, otoconia dapat terlepas dari tempatnya di utrikel dan masuk ke salah satu kanalis semisirkularis.

Ketika kepala kemudian bergerak, kristal tersebut ikut bergerak di dalam cairan saluran. Pergerakan yang seharusnya tidak terjadi itu membuat sensor keseimbangan mengirimkan sinyal yang tidak sesuai kepada otak.

Akibatnya, seseorang dapat merasakan sensasi berputar atau vertigo, terutama ketika melakukan gerakan tertentu seperti berguling di tempat tidur, bangun dari posisi berbaring, menundukkan kepala, atau melihat ke atas.

Kondisi tersebut dikenal sebagai Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) atau vertigo posisi paroksismal jinak.

Serangannya umumnya berlangsung singkat, tetapi sensasinya bisa sangat kuat. Keluhan dapat disertai mual, muntah, atau rasa tidak stabil ketika berdiri dan berjalan.

BPPV dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas. Namun, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan benturan atau cedera kepala, gangguan pada organ keseimbangan telinga bagian dalam, atau periode lama berada dalam posisi berbaring.

 

Apakah Kristal yang Bergeser Bisa Dikembalikan?

Kabar baiknya, pada BPPV, masalah ini dapat ditangani.

Penanganannya bukan dengan memberikan obat untuk “menempelkan” kristal kembali. Dokter atau tenaga kesehatan dapat melakukan canalith repositioning procedure, yaitu serangkaian perubahan posisi kepala dan tubuh yang bertujuan memindahkan kristal dari saluran semisirkularis menuju utrikel, tempat kristal tersebut tidak lagi memicu vertigo.

BACA JUGA  Temukan Katarak Hingga Minus, SMEC Gelar Cek Mata Gratis di Swalayan Tembung

Salah satu teknik yang paling dikenal adalah Manuver Epley. Pada kasus BPPV tertentu, pasien diposisikan dan kepala digerakkan melalui beberapa tahap dengan sudut tertentu. Setiap posisi biasanya dipertahankan selama beberapa puluh detik agar gravitasi membantu memindahkan kristal.

Mayo Clinic menyebut prosedur reposisi tersebut memberikan perbaikan pada sekitar 80 persen pasien setelah satu atau dua kali tindakan, meskipun BPPV dapat kambuh kembali.

Namun, tidak semua vertigo disebabkan oleh BPPV dan tidak semua kasus BPPV menggunakan manuver yang sama. Karena itu, sisi telinga dan jenis saluran yang terkena perlu ditentukan terlebih dahulu melalui pemeriksaan.

Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan tenaga kesehatan adalah Dix-Hallpike, yaitu pemeriksaan dengan perubahan posisi tertentu sambil mengamati munculnya vertigo dan gerakan mata yang khas.

 

Jangan Sembarangan Melakukan Manuver

Manuver Epley memang dapat diajarkan kepada pasien untuk dilakukan sendiri pada kondisi tertentu. Namun, sebaiknya seseorang mengetahui terlebih dahulu bahwa keluhannya memang sesuai dengan BPPV dan mengetahui sisi telinga yang terkena.

Hal ini penting karena vertigo mempunyai banyak kemungkinan penyebab. Selain itu, orang dengan masalah tertentu pada leher atau kondisi neurologis tertentu perlu mendapat pertimbangan medis sebelum melakukan manuver posisi.

BACA JUGA  Sumut Bidik Bebas Rabies 2030, Zakiyuddin Dampingi Wagub Lepas Jalan Santai di Pancing

Obat antimabuk atau obat untuk meredakan vertigo dapat membantu mengurangi keluhan pada kondisi tertentu, tetapi tidak memindahkan kristal yang bergeser. Pada BPPV, terapi reposisi merupakan pendekatan utama untuk mengatasi sumber mekanis masalah tersebut.

 

Kapan Harus Diperiksa?

Vertigo yang muncul singkat dan jelas dipicu perubahan posisi kepala memang dapat sesuai dengan gambaran BPPV. Namun, vertigo tidak selalu berarti kristal telinga sedang bergeser.

Jika pusing disertai gangguan pendengaran, kelemahan tubuh, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, sakit kepala berat, gangguan koordinasi, atau keluhan yang terus-menerus, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebab lain.

BPPV sendiri umumnya bukan kondisi yang mengancam nyawa, tetapi rasa berputar dan kehilangan keseimbangan dapat meningkatkan risiko jatuh dan cedera.

Pada akhirnya, “batu” yang sering dibicarakan dalam kaitannya dengan vertigo sebenarnya adalah kristal mikroskopis kalsium karbonat bernama otoconia. Ukurannya sangat kecil, tetapi perannya dalam sistem keseimbangan tubuh sangat besar.

Ketika berada di tempat yang semestinya, kristal tersebut membantu tubuh membaca gravitasi dan posisi kepala. Ketika berpindah ke saluran yang salah, kristal yang sama justru dapat membuat otak menerima sinyal gerakan yang keliru—dan dunia pun seolah ikut berputar.