JAKARTA | titik24 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Indonesia. Pemantauan satelit pada Minggu (18/10/2026) menunjukkan adanya titik panas di sejumlah daerah, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Data pemantauan bencana yang mengacu pada NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS) mencatat sejumlah anomali termal di beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat pada pukul 03.14 WIB.
Di Kalimantan Tengah, titik panas terpantau di Kabupaten Kapuas, Katingan, Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Lamandau, Kotawaringin Barat, serta Kota Palangka Raya.
Sementara di Kalimantan Barat, pemantauan mendeteksi konsentrasi titik panas di Kabupaten Ketapang, termasuk di sekitar Kecamatan Kendawangan.
Temuan tersebut menunjukkan perlunya pengawasan berkelanjutan di kawasan rawan kebakaran. Meski demikian, titik panas yang terdeteksi satelit merupakan indikasi anomali suhu dan tidak seluruhnya dapat langsung dipastikan sebagai kebakaran hutan atau lahan tanpa verifikasi di lapangan.
Penanganan Asap di Sumatera Selatan
Di Sumatera Selatan, pemerintah melanjutkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi konsentrasi asap akibat karhutla.
Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI melaksanakan operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice sejak 16 Oktober hingga 25 Oktober 2026.
Pada hari kedua pelaksanaan, Sabtu (17/10), pemantauan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera menunjukkan perbaikan jarak pandang di Palembang.
Penggunaan dry ice ditujukan untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang dapat menyebabkan asap tertahan dan menumpuk di dekat permukaan. Apabila kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan, operasi dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl).
Kendati demikian, efektivitas operasi tersebut masih perlu dievaluasi berdasarkan perkembangan atmosfer dan kondisi di lapangan.
Pemadaman langsung tetap menjadi bagian penting penanganan karhutla karena pengurangan konsentrasi asap tidak serta-merta memadamkan sumber api.
BMKG Ingatkan Kondisi Cuaca Kering
BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa sebagian wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi relatif kering pada periode 16–22 Oktober 2026.
Wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan termasuk daerah yang perlu mewaspadai rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan.
Sebaliknya, peluang hujan masih terbuka di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera bagian utara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.
Perbedaan kondisi cuaca tersebut membuat risiko kebakaran tidak merata di seluruh Indonesia. Karena itu, pemantauan titik panas, patroli, serta kesiapan personel pemadam perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
BMKG juga melaporkan pada 17 Oktober bahwa sebaran asap yang sempat memasuki wilayah Jabodetabek mulai bergerak menjauh. Namun, asap masih terpantau di sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.
Pencegahan dan Pemadaman Harus Berjalan Bersamaan
Karhutla berpotensi menimbulkan dampak berlapis, mulai dari penurunan kualitas udara, gangguan kesehatan masyarakat, kerusakan habitat satwa, hingga terganggunya aktivitas ekonomi dan transportasi.
Oleh karena itu, penanganan perlu dilakukan melalui kombinasi pemadaman darat, operasi udara, pemantauan satelit, serta langkah pencegahan di kawasan rawan kebakaran.
Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan kemunculan titik api kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Perkembangan titik panas pada Minggu ini menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla belum dapat diabaikan. Pemerintah perlu memastikan setiap indikasi kebakaran segera diverifikasi dan ditindaklanjuti, sementara upaya mengurangi asap harus berjalan seiring dengan pemadaman sumber api.
(Sumber: Kementerian Kehutanan, BMKG, dan pemantauan satelit NASA FIRMS melalui sistem pemantauan bencana.)





