Belawan, 31 Juli – Aktivitas alat berat, kendaraan operasional, dan pekerja yang berlangsung secara bersamaan menjadikan kawasan pelabuhan memiliki berbagai potensi risiko keselamatan kerja. Salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian serius adalah blind spot atau titik buta, yakni area yang tidak dapat terlihat secara langsung oleh operator kendaraan maupun alat berat.
Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko tersebut, PT Prima Multi Terminal (PMT) menggelar kegiatan Ngobras & Safety Induction Bahaya Titik Buta (Blind Spot) di Terminal Belawan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya PMT dalam memperkuat budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3), sekaligus meningkatkan pemahaman para pekerja terhadap berbagai potensi bahaya di area operasional pelabuhan.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung dalam empat sesi dan diikuti sekitar 390 peserta. Mereka terdiri atas operator alat berat, pengemudi kendaraan operasional, serta pekerja lapangan yang terlibat langsung dalam aktivitas bongkar muat di Terminal Belawan.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan edukasi mengenai potensi bahaya blind spot serta langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.
Dalam aktivitas operasional pelabuhan, blind spot merupakan area di sekitar kendaraan atau alat berat yang tidak dapat terlihat secara langsung oleh operator. Kondisi ini menjadi salah satu potensi bahaya yang perlu diwaspadai, mengingat mobilitas alat berat, truk, dan pekerja berlangsung secara bersamaan di kawasan terminal.
Manager Pengelolaan Operasi Terminal 1 PMT, Harlem Susanto Purba, mengatakan pemahaman mengenai blind spot tidak hanya penting bagi operator alat, tetapi juga bagi seluruh pekerja yang beraktivitas di lingkungan pelabuhan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan kesadaran seluruh operator dan pekerja pelabuhan mengenai pentingnya memahami area blind spot. Keselamatan kerja merupakan tanggung jawab bersama, sehingga setiap individu harus memahami risiko yang ada dan menerapkan prosedur keselamatan secara disiplin dalam setiap aktivitas operasional,” ujar Harlem.
Menurutnya, penguatan pemahaman mengenai keselamatan kerja perlu dilakukan secara konsisten. Hal itu penting agar kesadaran terhadap potensi bahaya tidak berhenti sebatas pengetahuan, melainkan menjadi bagian dari perilaku setiap pekerja dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kesadaran terhadap keselamatan harus menjadi budaya dalam setiap aktivitas kerja. Dengan memahami potensi risiko dan mematuhi prosedur yang berlaku, kita dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan menjaga operasional pelabuhan tetap berjalan dengan aman,” katanya.
Komitmen terhadap keselamatan tersebut juga tercermin dari capaian K3 PMT di Terminal Belawan yang hingga saat ini mencatatkan nihil kecelakaan kerja atau zero accident.
Capaian tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas operasional pelabuhan. PMT berharap kondisi tersebut dapat terus dipertahankan melalui penguatan budaya keselamatan dan kesehatan kerja, peningkatan kompetensi pekerja, serta pelaksanaan edukasi keselamatan secara berkelanjutan.
Selain memberikan pemahaman mengenai bahaya blind spot, kegiatan Ngobras & Safety Induction juga menjadi ruang komunikasi antara manajemen dan pekerja. Melalui forum tersebut, peserta dapat berbagi pengalaman sekaligus mengidentifikasi berbagai potensi risiko yang ditemukan dalam aktivitas operasional di lapangan.
Dengan keterlibatan seluruh pekerja, PMT berharap kesadaran terhadap bahaya di lingkungan kerja semakin meningkat dan budaya keselamatan dapat terus menjadi bagian yang melekat dalam setiap aktivitas operasional di Terminal Belawan.





