JAKARTA | Titik24.com
Wakil Ketua Harian DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gielbran Muhammad Noor, menegaskan tidak akan menarik pernyataannya yang pernah menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai “anak haram konstitusi”. Meski tetap pada pendiriannya, Gielbran kini mengajak masyarakat untuk tidak terus terjebak dalam polemik yang sama dan mulai membahas persoalan lain yang dinilai lebih penting.
Pernyataan kontroversial tersebut sebelumnya disampaikan Gielbran ketika masih menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam keterangannya pada Sabtu (10/10/2026), Gielbran memastikan dirinya tidak akan mencabut ucapan yang pernah dilontarkan terkait Gibran.
“Sampai sejauh ini saya tidak menarik ucapan itu. Jadi, saya tidak menarik ucapan soal yang pernah saya sampaikan soal Mas Gibran,” ujar Gielbran.
Meski demikian, ia menilai perdebatan yang terus berulang mengenai persoalan ijazah sejumlah tokoh tidak seharusnya mendominasi pembicaraan publik. Menurutnya, masyarakat perlu mengalihkan perhatian pada berbagai persoalan lain yang lebih mendesak.
Gielbran juga berpandangan bahwa Gibran dapat menjawab berbagai kritik melalui kinerja nyata sebagai Wakil Presiden. Menurutnya, hasil kerja dan kontribusi kepada masyarakat menjadi hal penting untuk menunjukkan kapasitas dalam menjalankan jabatan publik.
“Toh juga saya rasa Mas Gibran juga harus bisa membuktikan kalau semisal putusan itu bagi beliau kurang berkenan, ya tunjukkan dengan kinerja, gitu,” sambungnya.
Sikap Gielbran tersebut menunjukkan bahwa ia tetap mempertahankan pernyataan sebelumnya, tetapi sekaligus menginginkan agar perdebatan yang berlarut-larut tidak terus menjadi perhatian utama masyarakat.
Polemik mengenai Gibran dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan pencalonan serta legitimasi politiknya memang kerap memunculkan perbedaan pandangan di ruang publik. Namun, Gielbran menekankan pentingnya melihat persoalan secara lebih luas dan menilai pejabat publik berdasarkan kinerja serta tanggung jawabnya kepada masyarakat.
Dengan demikian, meski tidak mencabut pernyataan yang pernah memicu kontroversi, Gielbran mengajak publik untuk move on dan memberikan ruang bagi pembahasan isu-isu lain yang dinilai lebih substantif.*(Red01)*





