WASHINGTON | Titik24.com
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait kepemimpinan Ukraina. Trump menyatakan Ukraina perlu memiliki presiden baru setelah dirinya berselisih dengan Presiden Volodymyr Zelensky mengenai serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan kesepakatan pasokan diesel.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu (10/10/2026), sehari setelah mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memasok diesel Rusia ke pasar global.
Trump menilai serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia berisiko memperburuk persoalan pasokan bahan bakar. Ia juga menuding Zelensky menghambat tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Saya pikir sudah waktunya Ukraina mendapatkan presiden baru,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Minggu (11/10/2026).
Trump bahkan menyarankan Ukraina memilih pemimpin yang dinilainya mampu mencapai kesepakatan dengan Rusia. Ia juga mendesak Zelensky menghentikan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia.
Pernyataan tersebut memperlihatkan perbedaan pendekatan antara Washington dan Kyiv dalam menghadapi perang. Pemerintahan Trump berupaya mendorong penyelesaian konflik, sementara Ukraina menekankan perlunya tekanan terhadap Moskow agar negosiasi menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima.
Zelensky sebelumnya mengkritik keputusan Trump terkait pasokan diesel Rusia. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi menguntungkan Moskow di tengah perang yang masih berlangsung.
Kyiv juga menyatakan bahwa pelonggaran tekanan terhadap Rusia dapat memperkuat kemampuan negara tersebut untuk membiayai operasi militernya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyampaikan dukungannya kepada Zelensky. Pemerintah Inggris juga menyatakan akan memperkuat sanksi terhadap Rusia, menurut keterangan yang dilaporkan Reuters.
Perselisihan ini berlangsung ketika perwakilan Amerika Serikat, Ukraina, dan negara-negara Eropa mengadakan pembicaraan di Miami untuk mencari jalan menuju penyelesaian perang. Namun, pengumuman kesepakatan diesel Trump dengan Putin menambah kerumitan diplomasi tersebut.
Kremlin menyatakan Putin telah menerima gagasan Trump mengenai upaya meredakan konflik. Meski demikian, belum ada rincian lengkap mengenai kesepakatan damai yang dapat mengakhiri perang.
Perkembangan ini menjadi perhatian internasional karena kebijakan Amerika Serikat terhadap Rusia dapat memengaruhi negosiasi perdamaian, keamanan Eropa, serta stabilitas pasar energi dunia.
Hingga berita ini disusun, belum ada kepastian bahwa pernyataan Trump mengenai perlunya pemimpin baru di Ukraina akan diikuti perubahan kebijakan resmi Washington terhadap pemerintahan Zelensky.*(Red01)*
Sumber: Reuters dan AFP, 11 Oktober 2026.





