Internasional

Putin Tegaskan Hubungan Rusia-Mongolia Makin Erat, Capai Level Kemitraan Strategis Komprehensif

×

Putin Tegaskan Hubungan Rusia-Mongolia Makin Erat, Capai Level Kemitraan Strategis Komprehensif

Sebarkan artikel ini
Putin Tegaskan Hubungan Rusia-Mongolia Makin Erat, Capai Level Kemitraan Strategis Komprehensif

VLADIVOSTOK – Hubungan Rusia dan Mongolia memasuki babak baru. Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan semakin eratnya hubungan kedua negara yang telah berkembang menjadi kemitraan strategis komprehensif, di tengah meningkatnya kerja sama ekonomi, energi, perdagangan, dan konektivitas kawasan Asia.

Pernyataan tersebut mengemuka dalam rangkaian pertemuan Putin dengan para pemimpin Mongolia menjelang dan selama pelaksanaan Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di Vladivostok, Rusia. Perdana Menteri Mongolia Nyam-Osoryn Uchral menjadi salah satu pemimpin asing yang hadir dalam forum ekonomi tahunan tersebut.

Putin sebelumnya menegaskan bahwa Rusia memandang Mongolia bukan hanya sebagai negara tetangga, tetapi juga sebagai sahabat dan mitra strategis. Dalam pembicaraan dengan Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh pada 1 September 2026 di Bishkek, Putin menyebut hubungan Rusia-Mongolia dibangun di atas tradisi panjang bertetangga baik, persahabatan, serta saling memahami kepentingan masing-masing.

Presiden Rusia itu juga menyoroti perkembangan perdagangan kedua negara. Menurut Putin, perdagangan bilateral meningkat 4,5 persen pada 2025, sementara pada semester pertama 2026 pertumbuhannya telah melampaui 18 persen.

Meningkatnya hubungan ekonomi tersebut berlangsung bersamaan dengan penguatan kerja sama melalui berbagai mekanisme regional. Salah satunya adalah berlakunya perjanjian perdagangan sementara antara Mongolia dan Eurasian Economic Union (EAEU) pada Juli 2026. Putin berharap kesepakatan tersebut dapat memberikan kondisi yang lebih menguntungkan bagi produk ekspor tradisional Mongolia untuk memasuki pasar negara-negara anggota EAEU.

BACA JUGA  Bentrokan Pecah di Baidoa Somalia, 71 Orang Terluka dan Satu Warga Sipil Tewas

Fokus pada Energi dan Perdagangan

Kerja sama energi menjadi salah satu kepentingan utama Ulaanbaatar dalam mempererat hubungan dengan Moskow.

Pemerintah Mongolia sebelumnya menyatakan komitmennya untuk memperkuat kemitraan strategis komprehensif dengan Rusia. Dalam pertemuan Perdana Menteri Uchral dengan Duta Besar Rusia untuk Mongolia Alexey Yevsikov pada April 2026, kedua pihak membahas kerja sama di sektor bahan bakar dan energi.

Mongolia bahkan menyatakan kepentingan untuk memperoleh pasokan produk minyak bumi, termasuk solar, dengan persyaratan yang lebih menguntungkan. Kedua negara juga membahas kerja sama pasokan bahan bakar penerbangan serta rencana pembangunan cadangan bahan bakar nasional Mongolia.

Hubungan ekonomi kedua negara juga berkembang melalui sektor perdagangan, perbankan, transportasi, pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan kerja sama kemanusiaan.

Sebelumnya, ketika masih menjabat Ketua Parlemen Mongolia, Uchral melakukan kunjungan ke Rusia pada Februari 2026. Dalam kunjungan tersebut digelar Forum Ekonomi Rusia-Mongolia yang mempertemukan puluhan pelaku usaha Mongolia dengan lebih dari 100 perusahaan Rusia. Kedua pihak juga membahas upaya mengurangi hambatan teknis perdagangan dan memperluas akses produk Mongolia ke pasar Eurasia.

BACA JUGA  Ukraina Serang Jantung Gas Rusia, Drone Menembus 3.000 Kilometer ke Siberia

Mongolia Tetap Menjaga Hubungan dengan China

Meski hubungan dengan Rusia semakin erat, perkembangan tersebut tidak berarti Mongolia meninggalkan hubungan strategisnya dengan China.

Mongolia tetap menjalankan kebijakan luar negeri yang berupaya mempertahankan hubungan baik dengan kedua negara tetangganya yang sangat berpengaruh, yakni Rusia dan China.

Pada Juni 2026, Perdana Menteri Uchral bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan menegaskan bahwa hubungan baik dengan China serta penguatan kerja sama bilateral tetap menjadi salah satu prioritas utama kebijakan luar negeri Mongolia.

China sendiri merupakan mitra dagang terpenting Mongolia. Dalam pertemuan dengan Wang Yi, Uchral menyebut perdagangan Mongolia-China diharapkan mencapai target 20 miliar dolar AS tahun ini.

Kondisi ini menunjukkan posisi strategis Mongolia yang berada di antara dua kekuatan besar Eurasia. Ulaanbaatar berupaya memperluas kerja sama dengan Rusia sekaligus mempertahankan hubungan ekonomi yang sangat penting dengan China.

Uchral Hadir di Eastern Economic Forum

Kehadiran Perdana Menteri Nyam-Osoryn Uchral di Vladivostok menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

Kremlin memastikan Uchral menjadi salah satu pembicara utama dalam sesi pleno Eastern Economic Forum 2026 bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Wakil Presiden Myanmar Nyo Saw, serta Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang.

BACA JUGA  Pembatasan Hijab di Sekolah Azerbaijan Picu Protes, 37 Orang Ditahan

EEF 2026 mengangkat tema “The Far East: Development for the Benefit of People” dan menjadi salah satu forum utama Rusia untuk mendorong investasi serta memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara Asia-Pasifik.

Selain agenda pleno, Putin juga dijadwalkan menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan pemimpin delegasi asing.

Bagi Rusia, keterlibatan Mongolia memiliki arti strategis karena negara tersebut memiliki posisi geografis penting di antara Rusia dan China. Bagi Mongolia, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas investasi, perdagangan, energi, transportasi, logistik, serta hubungan ekonomi dengan Rusia dan negara-negara Asia-Pasifik.

Dengan pertumbuhan perdagangan yang signifikan dan semakin intensifnya kerja sama energi serta ekonomi, hubungan Moskow-Ulaanbaatar tampaknya akan terus menjadi salah satu bagian penting dari dinamika geopolitik dan ekonomi Eurasia.

Hubungan yang oleh Putin disebut berkembang sebagai kemitraan strategis komprehensif itu kini tidak hanya bertumpu pada sejarah dan kedekatan geografis, tetapi mulai diperkuat melalui proyek ekonomi dan kepentingan praktis kedua negara.