MEDAN — Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase eskalasi setelah Washington melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran militer Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran di kawasan Teluk.
Eskalasi terbaru terjadi setelah jeda relatif selama sekitar satu bulan dan kini meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dunia.
Komando Pusat Amerika Serikat (USCENTCOM) menyatakan pasukannya pada 1 September melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Target yang disebut Washington antara lain sistem pertahanan udara, radar, fasilitas maritim, kemampuan peletakan ranjau serta fasilitas komunikasi.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut dilakukan setelah adanya dugaan upaya IRGC menyerang pelayaran komersial dan personel Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Lebih dari 50.000 personel militer AS disebut masih berada di kawasan Timur Tengah.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah sasaran yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Serangan Iran dilaporkan menyasar wilayah Bahrain, Yordania, Irak dan Kuwait. Kuwait pada Kamis (3/9/2026) mengatakan pertahanan udaranya menghadapi serangan rudal dan drone Iran. Hingga laporan tersebut diterbitkan, pemerintah Kuwait belum melaporkan jumlah korban akibat serangan tersebut.
Selat Hormuz Menjadi Titik Panas
Selat Hormuz kini menjadi pusat perhatian dalam konflik tersebut.
Amerika Serikat mengatakan tindakannya bertujuan mencegah Iran mengancam pelayaran internasional, sementara Iran menggunakan posisi strategisnya di kawasan tersebut untuk memberikan tekanan terhadap Washington.
Gedung Putih sebelumnya menyatakan Amerika Serikat telah mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mengklaim ribuan kapal komersial telah melewati kawasan itu di bawah perlindungan Amerika. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menyatakan ranjau Iran telah dibersihkan dari jalur pelayaran internasional.
Namun, perkembangan militer terbaru menunjukkan situasi masih jauh dari stabil.
Reuters melaporkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz kembali menurun tajam setelah eskalasi terbaru. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa gangguan keamanan dapat kembali menghambat pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Pada saat yang sama, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 17 juta barel minyak mentah masih melewati Selat Hormuz pada Senin. Angka tersebut menunjukkan adanya pemulihan lalu lintas minyak dibandingkan periode sebelumnya, meskipun situasi keamanan tetap menjadi sumber ketidakpastian.
Harga Minyak Mendekati US$100 per Barel
Kekhawatiran terhadap Selat Hormuz langsung terasa di pasar energi.
Harga minyak Brent pada Kamis naik sekitar 1,7 persen menjadi US$97,29 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat sekitar 2,2 persen menjadi US$93,04 per barel.
Kenaikan tersebut membawa harga minyak ke level tertinggi dalam sekitar enam pekan. Investor memperhitungkan kemungkinan terganggunya pasokan energi jika konflik AS-Iran kembali meluas.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya energi, transportasi dan logistik secara global, sekaligus menambah tekanan inflasi.
Serangan AS Picu Korban Sipil
Di tengah eskalasi militer, laporan mengenai korban sipil juga semakin mendapat perhatian internasional.
Iran menyatakan serangan Amerika Serikat menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya dalam serangkaian serangan terbaru.
Salah satu insiden yang paling disorot terjadi di Kuhestak, wilayah pesisir selatan Iran dekat Selat Hormuz. Sebuah rudal menghantam sebuah rumah ketika keluarga sedang menggelar pesta pernikahan.
Menurut laporan AP, media Iran dan kelompok hak asasi menyebut sedikitnya empat orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk dua perempuan dan dua anak. Puluhan orang lainnya dilaporkan terluka.
Iran menuduh Amerika Serikat melakukan kejahatan perang dan meminta penyelidikan internasional. Bulan Sabit Merah Iran bahkan menyerukan agar insiden tersebut diperiksa oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Amerika Serikat belum mengonfirmasi secara resmi bahwa serangan tersebut merupakan serangan terhadap lokasi pernikahan. Juru bicara CENTCOM mengatakan militer AS sedang meninjau laporan mengenai insiden tersebut.
Trump Ancam Serangan Lebih Lanjut
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington masih dapat melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran.
Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintah Iran juga menunjukkan bahwa mereka tidak berniat mundur setelah serangan AS.
Situasi ini membuat kekhawatiran mengenai perluasan perang semakin besar, terutama karena sejumlah negara Teluk kini ikut menjadi sasaran serangan atau berada dalam jangkauan konflik.
Kuwait, Bahrain, Yordania dan Irak telah melaporkan atau menjadi lokasi intersepsi serangan Iran setelah operasi militer AS terhadap Iran.
Risiko Konflik Meluas
Eskalasi terbaru terjadi setelah perang AS-Israel dengan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 dan sebelumnya sempat mengalami jeda dalam intensitas serangan.
Kini, konflik kembali memasuki fase yang lebih berbahaya karena medan konfrontasi tidak lagi terbatas pada wilayah Iran dan Israel.
Serangan terhadap sasaran di negara-negara Teluk meningkatkan risiko negara-negara lain terseret lebih jauh ke dalam konflik.
Pada saat yang sama, Selat Hormuz menjadi titik kritis bagi perekonomian dunia. Setiap gangguan berkepanjangan terhadap jalur tersebut dapat mengurangi pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak.
Bagi pasar dunia, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak kapal yang masih dapat melewati Selat Hormuz, tetapi apakah perusahaan pelayaran dan perusahaan energi masih menganggap kawasan tersebut cukup aman untuk beroperasi.
Jika eskalasi berlanjut, konflik AS-Iran berpotensi berubah dari persoalan geopolitik Timur Tengah menjadi krisis energi global.
Untuk saat ini, belum ada tanda bahwa Washington dan Teheran berhasil mencapai kesepakatan baru untuk menghentikan pertempuran. Sebaliknya, kedua pihak masih mempertahankan tekanan militer, sementara negara-negara Teluk menghadapi risiko menjadi medan tambahan dalam perang yang semakin melebar.





