Medan – Ada sebuah perintah dalam Al-Qur’an yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat berat untuk dijalankan:
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Kalimat tersebut terdapat dalam QS. Al-Ma’idah ayat 8. Namun, jika ayat itu dibaca secara utuh, kita akan menemukan pesan yang jauh lebih dalam. Allah tidak sekadar memerintahkan manusia untuk berlaku adil, tetapi juga memperingatkan agar kebencian terhadap seseorang atau suatu kelompok tidak membuat kita kehilangan keadilan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini seakan mengingatkan bahwa keadilan yang sesungguhnya bukanlah ketika kita berlaku baik kepada orang yang kita sukai. Keadilan justru diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.
Ketika berhadapan dengan orang yang pernah menyakiti kita. Ketika seseorang menjadi lawan kita. Ketika kepentingan kita berseberangan dengan kepentingannya.
Di situlah pertanyaan sebenarnya muncul:
Mampukah kita tetap mengatakan sesuatu itu benar, meskipun orang yang melakukannya adalah orang yang kita benci?
Dan sebaliknya:
Mampukah kita mengatakan bahwa orang yang kita cintai telah melakukan kesalahan, ketika memang ia bersalah?
Keadilan Bukan Milik Orang yang Kita Sukai
Manusia memiliki kecenderungan untuk membela orang-orang yang dekat dengannya.
Ketika anak sendiri melakukan kesalahan, orang tua sering mencari alasan. Ketika sahabat melakukan kekeliruan, kita mencoba memaklumi. Ketika orang yang kita dukung melakukan kesalahan, kita sibuk mencari pembenaran. Tetapi ketika kesalahan yang sama dilakukan oleh orang yang tidak kita sukai, penilaian kita bisa berubah.
Kesalahan kecil terlihat besar. Kekurangan sedikit menjadi alasan untuk menghakimi seluruh dirinya. Kesalahan masa lalu terus diungkit untuk membenarkan kebencian hari ini.
Padahal keadilan tidak mengenal dua ukuran.
Kalau sesuatu itu salah ketika dilakukan oleh lawan, maka ia juga salah ketika dilakukan oleh kawan. Kalau sesuatu itu benar ketika dilakukan oleh orang yang kita cintai, maka ia tetap benar ketika dilakukan oleh orang yang tidak kita sukai.
Kebenaran tidak berubah hanya karena pelakunya berbeda.
Karena itulah Al-Qur’an tidak berhenti pada perintah untuk berlaku adil. Allah secara khusus memperingatkan manusia agar kebencian tidak membuat mereka meninggalkan keadilan.
Kisah Wahsyi dan Hamzah
Ada sebuah kisah dari kehidupan Rasulullah ﷺ yang membuat pesan ini terasa begitu manusiawi.
Hamzah bin Abdul Muthalib adalah paman Rasulullah ﷺ. Ia merupakan salah satu sosok yang sangat dekat dengan beliau dan gugur dalam Perang Uhud.
Orang yang membunuh Hamzah adalah Wahsyi bin Harb.
Dalam riwayat Shahih al-Bukhari, Wahsyi kemudian masuk Islam. Ia datang menghadap Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya:
“Apakah engkau Wahsyi?”
Wahsyi menjawab:
“Ya.”
Beliau kemudian bertanya:
“Engkaukah yang membunuh Hamzah?”
Wahsyi menjawab dengan mengatakan bahwa memang telah terjadi apa yang telah sampai kepada Rasulullah ﷺ.
Kemudian Rasulullah ﷺ berkata:
“Apakah engkau sanggup menyembunyikan wajahmu dariku?”
Wahsyi pun kemudian pergi.
Kalimat tersebut sangat sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang dalam.
Rasulullah ﷺ tidak berpura-pura bahwa beliau tidak terluka.
Beliau tidak menyangkal bahwa melihat Wahsyi dapat mengingatkan kembali kepada kematian Hamzah, orang yang sangat beliau cintai. Itu sebabnya Rasulullah bertanya “Apakah engkau sanggup menyembunyikan wajahmu dariku?”
Tetapi riwayat itu juga tidak menunjukkan Rasulullah ﷺ melakukan kezaliman kepada Wahsyi setelah ia datang sebagai seorang Muslim.
Di sinilah kita dapat melihat perbedaan antara rasa sakit dan ketidakadilan.
Seseorang boleh terluka. Seseorang boleh merasa sedih. Seseorang boleh memilih menjaga jarak dari orang yang pernah menyakitinya. Tetapi semua itu tidak memberikan izin untuk menzalimi.
Tidak menyukai seseorang bukan alasan untuk memalsukan kebenaran tentang dirinya.
Tidak menyukai seseorang bukan alasan untuk mengambil haknya. Tidak menyukai seseorang bukan alasan untuk menyebarkan fitnah tentangnya. Dan tidak menyukai seseorang bukan alasan untuk menganggap semua yang dilakukannya pasti salah.
Adil kepada Keluarga
Keadilan bahkan harus dimulai dari rumah. Seorang ayah harus mampu berlaku adil kepada anak-anaknya. Jangan karena satu anak lebih dekat, lebih penurut, atau lebih berhasil, kemudian kasih sayang dan perhatian diberikan secara tidak seimbang.
Dalam keluarga, keadilan juga berarti berani mengatakan kepada orang yang kita cintai bahwa ia salah.
Sebab membela orang yang kita cintai dalam kesalahan bukanlah bentuk kasih sayang yang sebenarnya.
Kadang-kadang, kasih sayang justru membutuhkan keberanian untuk mengatakan:
“Kamu salah. Dan aku mengatakan ini karena aku mencintaimu.”
Itulah keadilan yang tidak mudah.
Adil kepada Bawahan
Keadilan juga menjadi ujian bagi mereka yang memiliki kekuasaan. Seorang atasan memiliki kewenangan untuk memberi tugas, memberikan penilaian, menentukan penghargaan, bahkan menjatuhkan sanksi.
Di sinilah takwa diuji.
Apakah keputusan dibuat berdasarkan kemampuan dan kinerja? Ataukah berdasarkan kedekatan? Apakah penghargaan diberikan kepada orang yang memang berhak? Ataukah kepada orang yang paling pandai mengambil hati? Apakah kesalahan bawahan dinilai berdasarkan aturan yang sama? Ataukah berbeda tergantung siapa yang melakukan?
Kekuasaan memberikan seseorang kemampuan untuk berlaku tidak adil.
Karena itu, semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga ketakwaannya.
Adil kepada Lawan
Dalam kehidupan sosial, masyarakat sering terpecah oleh perbedaan pilihan, kepentingan, kelompok, organisasi, bahkan pandangan politik.
Kita cenderung melihat dunia dalam dua warna:
kelompok kita benar, kelompok mereka salah.
Padahal manusia tidak sesederhana itu. Orang yang kita dukung bisa melakukan kesalahan. Orang yang kita lawan bisa mengatakan sesuatu yang benar. Dan kedewasaan bukanlah kemampuan untuk selalu memenangkan kelompok sendiri.
Kedewasaan adalah kemampuan untuk mengatakan:
“Saya tidak menyukai dia, tetapi dalam hal ini dia benar.”
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun untuk mengucapkannya dengan jujur, dibutuhkan keberanian.
Sebab ego sering kali lebih ingin menang daripada menemukan kebenaran.
Keadilan kepada Orang yang Pernah Menyakiti
Barangkali ini bagian yang paling sulit. Ketika seseorang menyakiti kita, hati kita ingin membalas. Ketika seseorang mempermalukan kita, kita ingin mempermalukannya kembali. Ketika seseorang mengambil hak kita, kita ingin mengambil haknya. Ketika seseorang menyebarkan keburukan tentang kita, kita tergoda membuka semua keburukannya.
Namun di sinilah ajaran tentang keadilan menjadi sangat penting.
Kita boleh menuntut hak. Kita boleh mencari perlindungan. Kita boleh menjaga jarak. Kita boleh memberikan hukuman yang memang menjadi hak berdasarkan aturan yang berlaku. Tetapi jangan sampai hukuman berubah menjadi dendam. Jangan sampai pembelaan berubah menjadi fitnah. Jangan sampai rasa sakit mengubah kita menjadi orang yang melakukan hal yang sama dengan orang yang kita kecam.
Karena ketika seseorang menzalimi kita, lalu kita membalas dengan kezaliman, kita tidak sedang memenangkan keadilan. Kita hanya sedang memperpanjang ketidakadilan.
Takwa yang Terlihat dalam Perbuatan
Mungkin inilah mengapa Allah berfirman:
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Takwa bukan hanya sesuatu yang terlihat dalam ibadah. Takwa juga terlihat dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak diketahui banyak orang.
Ketika kita mempunyai kesempatan untuk mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain, tetapi memilih tidak melakukannya.
Ketika kita memiliki kekuasaan untuk membalas, tetapi memilih menahan diri. Ketika kita bisa memutarbalikkan cerita untuk memenangkan diri sendiri, tetapi memilih berkata jujur.
Ketika orang yang kita cintai salah, kita berani mengakui kesalahannya. Dan ketika orang yang kita benci benar, kita cukup rendah hati untuk mengakuinya.
Di situlah keadilan menjadi bentuk ketakwaan.
Sebab berlaku adil kepada orang yang kita cintai relatif mudah.
Yang sulit adalah berlaku adil kepada orang yang kita benci.
Berlaku adil ketika kita dirugikan.
Berlaku adil ketika ego kita terluka.
Berlaku adil ketika kita memiliki kekuasaan untuk berbuat lebih dari yang seharusnya.
Dan mungkin justru dalam keadaan seperti itulah kualitas takwa seseorang benar-benar terlihat.
Kita semua ingin diperlakukan adil.
Kita ingin hak kita dihormati.
Kita ingin ketika dituduh, kita didengar.
Kita ingin ketika berbuat benar, kebenaran kita diakui.
Namun sebelum menuntut semua itu dari orang lain, ada satu pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada diri sendiri:
Sudahkah kita berlaku adil kepada mereka?
Kepada keluarga, kepada pasangan, kepada anak, kepada bawahan, kepada tetangga, kepada sahabat, kepada lawan, kepada orang yang berbeda pandangan..Dan terutama kepada orang yang pernah menyakiti kita.
Sebab pada akhirnya, keadilan bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan orang ketika hati kita sedang tenang.
Keadilan adalah bagaimana kita memperlakukan orang ketika hati kita memiliki alasan untuk membencinya.
Dan mungkin, ketika kita mampu tetap adil dalam keadaan seperti itu, kita sedang memahami salah satu pesan terdalam dari Al-Qur’an:
“Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

