Oleh: H. Syahrir Nasution
Umur terus bertambah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Namun pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita persiapkan untuk kehidupan setelah dunia ini?
Jangan sampai usia kita semakin panjang, tetapi amal ibadah justru semakin sedikit.
Jangan sampai rambut semakin memutih, tubuh semakin renta, tetapi hati masih terlalu sibuk mengejar dunia. Kita mengejar harta, jabatan, popularitas, penghargaan dan berbagai kenikmatan dunia seolah-olah semuanya akan kita bawa sampai ke liang kubur.
Padahal, kubur tidak pernah menunggu kita menjadi kaya. Kubur tidak menunggu kita mendapatkan jabatan. Kubur tidak menunggu kita menjadi terkenal.
Kubur hanya menunggu datangnya waktu yang telah ditetapkan Allah SWT.
JANGAN HABISKAN HIDUP HANYA UNTUK MENGEJAR DUNIA
Kita boleh mencari rezeki. Kita boleh bekerja keras. Kita boleh membangun usaha, mengejar cita-cita dan memperbaiki kehidupan keluarga. Semua itu bukan sesuatu yang salah.
Tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika dunia menjadi tujuan utama, sementara akhirat hanya menjadi urusan yang selalu kita tunda.
Kita sering berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih banyak beribadah.”
Pertanyaannya: siapa yang menjamin kita akan sampai pada usia tua?
Kita sering mengatakan, “Nanti kalau sudah kaya saya akan bersedekah.”
Padahal belum tentu kekayaan itu datang.
Kita mengatakan, “Nanti kalau sudah selesai urusan dunia, saya akan lebih dekat kepada Allah.”
Padahal kematian tidak pernah menunggu seluruh urusan dunia kita selesai.
Inilah yang sering membuat manusia terlena.
Dunia memang indah, tetapi keindahan dunia hanya sementara. Dunia juga penuh dengan bayang-bayang yang dapat mengecoh manusia. Apa yang hari ini kita banggakan, suatu saat bisa hilang. Apa yang hari ini kita miliki, suatu saat bisa berpindah tangan.
Yang kita miliki sebenarnya hanya kesempatan untuk berbuat baik sebelum kesempatan itu berakhir.
BIARKAN DUNIA TIDAK MENGUASAI HATI KITA
Selama kita masih hidup di dunia, janganlah terlalu sibuk “memikirkan dunia” sampai melupakan siapa yang menciptakan dunia.
Bekerjalah, tetapi jangan lupa beribadah.
Carilah rezeki, tetapi jangan kehilangan rasa syukur.
Kejar kesuksesan, tetapi jangan mengorbankan kejujuran.
Bangun kehidupan dunia, tetapi jangan meruntuhkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Karena sesungguhnya kita bukan pemilik dunia. Kita hanya sedang singgah di dalamnya.
Dunia adalah tempat persinggahan. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Maka jangan sampai kita menjadi manusia yang berhasil mengumpulkan banyak hal di dunia, tetapi miskin amal ketika menghadap Allah SWT.
UMUR BERTAMBAH, SEHARUSNYA AMAL JUGA BERTAMBAH
Setiap ulang tahun, seharusnya bukan hanya umur yang kita hitung.
Tetapi juga amal yang kita evaluasi.
Berapa banyak waktu yang telah kita habiskan?
Berapa banyak orang yang sudah kita bantu?
Berapa banyak kesalahan yang telah kita sesali?
Berapa banyak dosa yang sudah kita tinggalkan?
Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mengingat Allah?
Dan yang paling penting:
Jika hari ini adalah hari terakhir kita di dunia, apakah kita sudah siap menghadap-Nya?
Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi sangat berat untuk dijawab.
Sebab kita sering merasa masih memiliki banyak waktu.
Padahal kematian adalah kepastian, sedangkan waktu kedatangannya adalah rahasia Allah SWT.
Karena itu, jangan tunggu menjadi tua untuk bertobat.
Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Jangan tunggu sakit untuk mengingat Allah.
Jangan tunggu kehilangan untuk menghargai orang lain.
Dan jangan tunggu kematian datang baru kita menyadari bahwa dunia yang selama ini kita kejar ternyata tidak bisa ikut masuk ke dalam kubur.
MARI KITA SAMA-SAMA BERBENAH
Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa pun.
Terutama bukan untuk merasa bahwa penulis lebih baik daripada orang lain.
Justru tulisan ini adalah kritik kepada diri sendiri dan pengingat kepada kita semua.
Kita sama-sama manusia.
Kita sama-sama pernah lalai.
Kita sama-sama pernah mengejar dunia terlalu jauh.
Dan kita sama-sama membutuhkan ampunan Allah SWT.
Maka selama pintu kesempatan masih terbuka, mari kita perbaiki diri.
Jika selama ini ibadah kita masih kurang, mari kita tambah.
Jika selama ini sedekah kita masih sedikit, mari kita perbanyak.
Jika selama ini kita masih sering menyakiti orang lain, mari kita belajar meminta maaf.
Jika selama ini hati kita terlalu terpaut kepada dunia, mari kita kembali mengingat bahwa akhir perjalanan setiap manusia adalah kematian.
Umur yang panjang bukanlah ukuran keberhasilan seseorang.
Yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan selama umur itu diberikan kepada kita.
Sebab ada manusia yang umurnya panjang tetapi sedikit amalnya.
Ada pula manusia yang usianya tidak panjang, tetapi meninggalkan banyak kebaikan.
Maka jangan hanya berdoa agar umur kita dipanjangkan.
Berdoalah agar umur yang Allah berikan menjadi umur yang penuh keberkahan, penuh amal, penuh manfaat dan penuh pengabdian kepada-Nya.
Kahanggi yang saya hormati,
Jangan biarkan umur bertambah tanpa amal ibadah.
Jangan sampai kita sibuk menghitung bertambahnya usia, tetapi lupa menghitung berkurangnya kesempatan hidup.
Sebab setiap hari yang berlalu sesungguhnya bukan hanya membuat umur kita bertambah.
Tetapi juga membuat jatah hidup kita berkurang.
Mari kita jadikan sisa umur sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal, memperbaiki hubungan dengan sesama, mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meninggalkan sesuatu yang baik bagi orang-orang yang kita tinggalkan.
Karena pada akhirnya, ketika harta, jabatan, nama besar dan segala kemewahan dunia tidak lagi berguna, yang akan menemani kita hanyalah amal perbuatan kita.
Semoga Allah SWT memberikan kita umur yang panjang dalam kebaikan, kesehatan dalam ketaatan, rezeki yang halal dan berkah, hati yang selalu bersyukur, serta husnul khatimah.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
