Internasional

Lebih dari 20 Pejabat Senior Militer AS Pergi di Era Hegseth, Pergantian Pimpinan Pentagon Jadi Sorotan

×

Lebih dari 20 Pejabat Senior Militer AS Pergi di Era Hegseth, Pergantian Pimpinan Pentagon Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Lebih dari 20 Pejabat Senior Militer AS Pergi di Era Hegseth, Pergantian Pimpinan Pentagon Jadi Sorotan

WASHINGTON — Pergantian besar-besaran di jajaran pimpinan militer Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah sedikitnya 20 jenderal, laksamana, dan pejabat sipil senior pertahanan diberhentikan, dipaksa meninggalkan jabatan, mengundurkan diri, atau pensiun sejak Pete Hegseth memimpin Departemen Pertahanan AS.

Laporan CBS News yang terbit 1 September 2026 menyebut, sedikitnya 20 pejabat senior telah meninggalkan posisi mereka selama masa kepemimpinan Hegseth. Mereka termasuk sejumlah pejabat militer dengan posisi strategis di Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, serta sejumlah pejabat sipil senior.

Hegseth sendiri secara resmi kini menggunakan gelar Secretary of War atau Menteri Perang. Pemerintah AS mengubah penggunaan nama Departemen Pertahanan menjadi Department of War pada September 2025 sebagai bagian dari kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump. Situs resmi departemen tersebut menyebut Hegseth sebagai Secretary of War.

Sejumlah Jenderal Bintang Empat Tersingkir

Salah satu perubahan paling mencolok terjadi di Angkatan Darat AS. Pada April 2026, Hegseth memberhentikan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Randy George, meskipun masa jabatannya masih tersisa lebih dari satu tahun.

Pada saat yang sama, Jenderal David Hodne dan Mayor Jenderal William Green Jr. juga dicopot dari posisi mereka. Pergantian tersebut terjadi ketika Amerika Serikat tengah menjalankan operasi militer terkait konflik dengan Iran.

Jenderal Christopher Donahue, komandan U.S. Army Europe and Africa, kemudian meninggalkan posisinya pada Juli 2026 setelah masa jabatan yang relatif singkat. Washington Post melaporkan bahwa upaya internal untuk memperpanjang masa tugas Donahue tidak mendapatkan dukungan Hegseth.

Sejumlah pejabat tinggi dari matra lain juga mengalami perubahan. Daftar yang dihimpun Axios mencakup mantan Ketua Joint Chiefs of Staff Jenderal CQ Brown Jr., mantan Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Lisa Franchetti, serta sejumlah pejabat senior Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Direktur Defense Intelligence Agency Letnan Jenderal Jeffrey Kruse juga diberhentikan setelah menghasilkan penilaian intelijen yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan pemerintah terkait serangan AS ke Iran.

BACA JUGA  Putin Tegaskan Hubungan Rusia-Mongolia Makin Erat, Capai Level Kemitraan Strategis Komprehensif

Pengunduran Diri Dan Driscoll Memperbesar Sorotan

Gelombang pergantian tersebut kembali menjadi perhatian setelah Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll mengundurkan diri pada akhir Agustus 2026.

Gedung Putih tidak memberikan alasan spesifik mengenai pengunduran diri Driscoll. Namun, sejumlah media AS melaporkan adanya ketegangan antara Driscoll dan Hegseth, terutama mengenai arah modernisasi Angkatan Darat dan keputusan mengganti sejumlah pimpinan militer senior.

ABC News melaporkan bahwa Driscoll sebelumnya beberapa kali menyampaikan kekhawatiran kepada Gedung Putih mengenai apa yang disebut sumber sebagai pemecatan luas dan tampaknya tidak pandang bulu terhadap perwira senior. Driscoll juga disebut memperingatkan mengenai upaya menghambat sejumlah perwira yang telah melalui proses pemeriksaan untuk menduduki posisi tertinggi dalam struktur militer.

Menurut laporan Axios, pengunduran diri Driscoll berkaitan dengan dua persoalan utama, yakni hambatan terhadap agenda modernisasi Angkatan Darat dan situasi internal yang semakin tidak stabil setelah sejumlah jenderal senior dicopot, termasuk Randy George.

Kritik: Loyalitas Disebut Mengalahkan Pengalaman

Pergantian tersebut memunculkan kritik dari sejumlah anggota parlemen, veteran dan mantan pejabat militer. Mereka mempertanyakan apakah pergantian yang begitu cepat dapat mengganggu kesinambungan kepemimpinan dan modernisasi militer AS.

Kekhawatiran itu semakin besar karena beberapa pergantian terjadi pada saat Amerika Serikat masih terlibat dalam konflik militer di Timur Tengah.

Pentagon sendiri membantah bahwa Hegseth mengabaikan nasihat militer. Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan perbedaan pendapat atau non-concurs dari komandan senior merupakan bagian normal dari proses pengambilan keputusan militer. Pernyataan itu muncul setelah laporan mengenai sejumlah komandan senior yang menyampaikan keberatan terhadap rencana mempertahankan puluhan ribu pasukan AS di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, kritik terhadap gaya kepemimpinan Hegseth terus bermunculan. Salah satu komentar yang kemudian viral di media sosial menyebut secara satir bahwa Hegseth telah “menyingkirkan lebih banyak jenderal Amerika daripada jenderal Iran”. Kalimat tersebut merupakan komentar kritis terhadap banyaknya pergantian pejabat militer AS dan bukan data resmi mengenai jumlah jenderal Iran yang tewas atau diberhentikan.

BACA JUGA  Erupsi Gunung Sinabung Gagalkan Lawatan 51 Guru dan Staf Malaysia ke Medan, LOI TPI-SKKB Ditunda

Perubahan Besar di Tengah Konflik

Pergantian pimpinan militer dalam jumlah besar menjadi semakin sensitif karena berlangsung ketika Amerika Serikat menghadapi sejumlah persoalan keamanan sekaligus, termasuk konflik dengan Iran dan perang Rusia-Ukraina.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak hanya menyangkut satu atau dua posisi. Sejumlah jabatan strategis di Angkatan Darat dan matra lainnya telah mengalami pergantian, sementara beberapa pejabat yang meninggalkan Pentagon menyatakan atau dilaporkan memiliki perbedaan pandangan mengenai kebijakan dan arah organisasi.

Bagi pendukung Hegseth, perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk merombak birokrasi pertahanan, meningkatkan kesiapan tempur, dan mengubah prioritas militer Amerika Serikat.

Namun bagi para pengkritiknya, besarnya jumlah pejabat senior yang pergi dalam waktu relatif singkat menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas kepemimpinan militer dan apakah keputusan personalia lebih banyak didasarkan pada loyalitas politik dibandingkan pengalaman dan pertimbangan profesional.

Dengan sedikitnya 20 pejabat senior telah meninggalkan posisinya, pergantian kepemimpinan di era Hegseth kini menjadi salah satu perubahan personel paling signifikan dalam tubuh militer AS dalam beberapa tahun terakhir.