JAKARTA — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Erupsi menerus yang dimulai pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB berlangsung hingga Minggu (6/9/2026) dini hari dan disertai suara dentuman, gemuruh serta fenomena lava fountain atau air mancur lava.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan dan pendaki diminta tidak mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan aktivitas vulkanik masih berlangsung ketika laporan pemantauan diterbitkan pada Sabtu (5/9). Erupsi juga disertai lontaran material vulkanik sehingga masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung untuk menyaksikan atau merekam aktivitas erupsi.
Pada fase tersebut, aktivitas visual pada malam hari diinterpretasikan sebagai lava fountain, sementara dari sisi kegempaan tercatat kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter.
Aktivitas tersebut kemudian berdampak luas. Abu vulkanik yang terbawa angin mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki di sisi Sumatra dan 20.000 kaki di sisi Jawa, sehingga mengganggu lalu lintas penerbangan.
Reuters melaporkan pada Senin (7/9) bahwa delapan bandara di Indonesia masih terdampak atau ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik. Gangguan penerbangan tersebut telah memengaruhi sekitar 170.000 penumpang.
Sehari sebelumnya, lebih dari 1.500 penerbangan dilaporkan terdampak di sejumlah bandara. Selain penerbangan, aktivitas masyarakat juga ikut terganggu. Sejumlah sekolah di wilayah terdampak menerapkan pembelajaran jarak jauh, sementara masyarakat diminta menggunakan masker ketika berada di luar ruangan.
Bukan Sekadar Erupsi Biasa
Kembalinya Anak Krakatau menjadi perhatian bukan semata karena besarnya erupsi kali ini. Gunung api yang berada di tengah Selat Sunda tersebut memiliki sejarah panjang dan berkaitan langsung dengan salah satu bencana vulkanik paling terkenal dalam sejarah modern.
Anak Krakatau merupakan gunung api baru yang tumbuh dari kawasan bekas Krakatau, gunung yang mengalami letusan katastrofik pada 1883.
Menurut catatan U.S. Geological Survey (USGS), rangkaian letusan Krakatau pada Agustus 1883 berlangsung selama sekitar 23 jam dan memuntahkan lebih dari empat mil kubik material vulkanik. Bencana tersebut menyebabkan lebih dari 36.000 orang meninggal dunia serta menimbulkan kehancuran besar di kawasan sekitar Selat Sunda.
Sebagian besar korban bukan disebabkan langsung oleh lontaran material vulkanik, melainkan tsunami yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatra. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat tsunami menjadi penyebab utama lebih dari 36.000 kematian dalam bencana tersebut. Gelombang dan dampak letusan juga tercatat jauh di luar kawasan Indonesia.
Letusan tersebut juga mengubah bentuk kawasan Krakatau secara drastis. Sebagian besar tubuh gunung runtuh dan membentuk kaldera, sementara sisa aktivitas vulkanik kemudian melahirkan gunung baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.
Gunung baru itu mulai muncul dari laut pada akhir 1920-an. Sejak itu, Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan dan berulang kali menunjukkan aktivitas erupsi.
Tragedi Kembali Terjadi pada 2018
Sejarah kelam Krakatau kembali mencuat pada 22 Desember 2018.
Saat itu, aktivitas erupsi Anak Krakatau menyebabkan longsoran sebagian tubuh gunung ke laut. Material longsoran tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung tanpa didahului peringatan gempa besar seperti pada tsunami tektonik.
Bencana tersebut menewaskan 437 orang, melukai lebih dari 31.000 orang dan menyebabkan sejumlah orang hilang, berdasarkan kajian ilmiah yang merujuk pada data resmi BNPB.
Tsunami tersebut juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman, fasilitas wisata dan infrastruktur di sepanjang pesisir Selat Sunda.
Peristiwa 2018 sekaligus memperlihatkan bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berupa letusan dan abu vulkanik. Perubahan morfologi tubuh gunung dan kemungkinan longsoran material ke laut menjadi faktor yang harus terus dipantau.
Mengapa Saat Ini Tidak Ada Peringatan Tsunami?
Kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan tsunami kembali muncul seiring meningkatnya aktivitas Anak Krakatau.
Namun, BNPB menyampaikan bahwa berdasarkan evaluasi PVMBG, tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Karena itu, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tidak panik. Meski demikian, pemantauan terhadap aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap dilakukan secara intensif.
Dengan kata lain, tidak ada indikasi tsunami saat ini, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan karena Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang berada di lingkungan laut.
Aktivitas yang Terus Dipantau
Erupsi September 2026 sebenarnya bukan kemunculan aktivitas secara tiba-tiba. Badan Geologi sebelumnya mencatat Anak Krakatau telah mengalami beberapa erupsi pada Juli 2026, termasuk pada 2 dan 3 Juli.
Aktivitas kemudian meningkat pada akhir Agustus dan memasuki fase erupsi yang lebih kuat pada awal September.
Pada episode terbaru, fenomena lava fountain, lontaran material pijar, dentuman dan sebaran abu menunjukkan bahwa sistem vulkanik Anak Krakatau masih aktif.
Pemerintah pun meminta masyarakat tidak mendekati kawasan gunung hanya untuk melihat atau merekam erupsi. Informasi mengenai kondisi gunung juga diminta merujuk kepada PVMBG, Badan Geologi, BNPB dan pemerintah daerah untuk menghindari kepanikan akibat informasi yang belum terverifikasi.
Untuk saat ini, ancaman yang paling nyata adalah abu vulkanik dan gangguan aktivitas masyarakat serta penerbangan, sementara status gunung tetap Level III (Siaga).
Namun sejarah Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas gunung api di tengah Selat Sunda bukan fenomena yang boleh dipandang sebelah mata. Dari letusan dahsyat 1883 hingga tsunami 2018, kawasan ini telah beberapa kali memperlihatkan bagaimana aktivitas vulkanik dapat berkembang menjadi bencana besar.
Karena itu, meskipun tidak ada peringatan tsunami saat ini, pemantauan ketat terhadap aktivitas Anak Krakatau tetap menjadi kunci untuk mencegah tragedi kembali terulang.





