Internasional

Ukraina Serang Jantung Gas Rusia, Drone Menembus 3.000 Kilometer ke Siberia

×

Ukraina Serang Jantung Gas Rusia, Drone Menembus 3.000 Kilometer ke Siberia

Sebarkan artikel ini
Ukraina Serang Jantung Gas Rusia, Drone Menembus 3.000 Kilometer ke Siberia

MOSKOW — Perang Rusia-Ukraina memasuki babak baru setelah Ukraina melancarkan serangan drone ke dua fasilitas penting industri gas Rusia di wilayah Yamalo-Nenets, Siberia, yang berjarak lebih dari 3.000 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Serangan pada Rabu (9/9/2026) tersebut disebut sebagai salah satu serangan terdalam yang dilakukan Ukraina sejak perang pecah. Dua fasilitas yang menjadi sasaran adalah Novy Urengoy Gas Condensate Treatment Plant dan fasilitas pengolahan gas kondensat di kawasan Purovsky.

Pasukan Operasi Khusus Ukraina menyatakan kedua fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam industri gas kondensat Rusia. Wilayah Yamalo-Nenets sendiri merupakan salah satu pusat produksi minyak dan gas terbesar Rusia.

Jarak serangan menjadi salah satu aspek paling mencolok.

Menurut keterangan Ukraina, drone yang digunakan menempuh jarak lebih dari 3.000 kilometer untuk mencapai sasaran. Dengan demikian, kawasan yang selama ini relatif jauh dari garis depan perang kini ikut masuk dalam jangkauan serangan Ukraina.

Gubernur Yamalo-Nenets Dmitry Artyukhov mengonfirmasi adanya serangan dan menyebut kerusakan sedang dievaluasi. Laporan dari wilayah tersebut juga menyebut adanya kebakaran di fasilitas industri, sementara tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

BACA JUGA  Lebih dari 20 Pejabat Senior Militer AS Pergi di Era Hegseth, Pergantian Pimpinan Pentagon Jadi Sorotan

Menyerang Urat Nadi Ekonomi Rusia

Serangan terhadap fasilitas gas bukan sekadar operasi militer untuk menghancurkan sebuah bangunan.

Bagi Kyiv, infrastruktur energi merupakan salah satu sasaran strategis karena sektor tersebut menjadi sumber pendapatan penting bagi negara Rusia sekaligus menopang kemampuan Moskow membiayai perang.

Fasilitas Novy Urengoy memiliki kapasitas desain sekitar 19,5 juta ton bahan baku per tahun, sementara fasilitas Purovsky dilaporkan memproses sekitar 13,4 juta ton kondensat gas pada 2025.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut serangan tersebut dan menekankan dampaknya terhadap kemampuan ekonomi Rusia.

Bagi Kyiv, pesan yang hendak disampaikan cukup jelas: semakin jauh Rusia menyerang infrastruktur Ukraina, semakin jauh pula Ukraina berupaya membawa perang ke wilayah yang sebelumnya dianggap aman oleh Moskow.

Eropa Ikut Terkena Dampaknya

Serangan tersebut juga langsung mendapat perhatian pasar energi Eropa.

Harga gas alam Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Desember 2022. Kontrak gas acuan Belanda TTF dilaporkan naik sekitar 3 persen menjadi sekitar 81,58 euro per megawatt-jam setelah kabar serangan di Yamalo-Nenets muncul.

BACA JUGA  Hampir Sebulan Usai Dugaan Keracunan MBG, Kondisi Febiola Memprihatinkan: Ingatan Terganggu hingga Tak Kenali Keluarga

Kekhawatiran tersebut datang pada saat pasar energi Eropa memang sedang menghadapi tekanan.

Ketegangan di Timur Tengah telah mengganggu sebagian pasokan LNG, sementara persediaan gas Eropa juga menjadi perhatian menjelang musim dingin.

Situasi ini menciptakan paradoks bagi Eropa. Di satu sisi, negara-negara Eropa berusaha mengurangi ketergantungan terhadap energi Rusia. Namun di sisi lain, setiap gangguan terhadap pasokan gas global tetap berpotensi mendorong harga energi di kawasan tersebut.

Laporan Pengadilan Auditor Eropa bahkan menyebut upaya Uni Eropa mengakhiri ketergantungan terhadap energi Rusia masih menghadapi persoalan. Impor gas Rusia memang telah turun drastis sejak invasi Ukraina pada 2022, tetapi transisi energi Eropa belum sepenuhnya ditopang investasi dan infrastruktur yang memadai.

Perang Semakin Menjauh dari Garis Depan

Serangan di Yamalo-Nenets memperlihatkan perubahan penting dalam perang Rusia-Ukraina.

Medan perang tidak lagi hanya berada di Ukraina timur atau selatan. Kilang minyak, fasilitas gas, pelabuhan, jaringan logistik dan infrastruktur energi jauh di dalam wilayah Rusia kini menjadi bagian dari kalkulasi militer kedua pihak.

BACA JUGA  TPI Medan–SK Kebun Baharu Selangor Jalin Kolaborasi Pendidikan, Cetak Generasi Entrepreneur Berbasis Religius

Sebelumnya, Ukraina juga menyerang kilang minyak Omsk di Siberia, sekitar 2.700 kilometer dari wilayah yang dikuasai Ukraina. Serangan terbaru bahkan mencapai kawasan yang lebih jauh dan merupakan salah satu pusat produksi gas Rusia.

Pada saat yang sama, Rusia terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur Ukraina.

Pada Kamis (10/9), serangan Rusia menghantam sejumlah sasaran di Ukraina, termasuk sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Kyiv yang menyebabkan empat orang terluka. Di Dnipro, fasilitas pengolahan minyak bunga matahari milik perusahaan agribisnis AS Bunge juga terkena serangan yang menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya.

Dengan pola serangan yang semakin menyasar infrastruktur ekonomi, perang Rusia-Ukraina kini tidak hanya berbicara tentang siapa menguasai wilayah.

Pertarungannya juga menyentuh kemampuan lawan untuk memproduksi energi, menjalankan industri, membiayai perang dan mempertahankan ekonominya.

Dan dengan drone Ukraina yang kini mampu mencapai jantung industri gas Rusia lebih dari 3.000 kilometer dari garis depan, batas antara “wilayah perang” dan “wilayah aman” Rusia semakin kabur.