MOGADISHU — Bentrokan kembali pecah di Baidoa, Somalia bagian barat daya, Kamis (3/9/2026). Pasukan pemerintah terlibat pertempuran dengan milisi yang loyal kepada mantan Presiden Negara Bagian South West, Abdiaziz Hassan Mohamed Laftagareen, serta kelompok militan al-Shabab.
Pertempuran terjadi di pinggiran Baidoa sejak pagi dan berlangsung selama beberapa jam. Suara tembakan berat terdengar di sejumlah kawasan kota dan memaksa warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Kementerian Pertahanan Somalia mengatakan pasukan pemerintah merespons serangan yang dilakukan kelompok bersenjata yang disebut memiliki hubungan dengan pendukung Laftagareen dan al-Shabab.
Pertempuran dilaporkan berhenti pada awal Kamis siang. Pasukan pemerintah kemudian melakukan patroli di sejumlah ruas jalan, sementara ambulans membawa korban ke rumah sakit.
Kepala Departemen Gawat Darurat Bay Regional Hospital di Baidoa, Dr Abdikafi Omar Mohamud, mengatakan rumah sakit menerima 71 orang terluka, termasuk 15 perempuan, serta satu warga sipil yang meninggal dunia.
Jumlah tersebut merupakan data korban yang diterima rumah sakit dan belum tentu menggambarkan seluruh korban akibat pertempuran.
Seorang warga Baidoa, Abdullahi Haji, mengatakan kepada Associated Press bahwa dirinya meninggalkan rumah setelah mendengar suara tembakan berat. Ia juga melihat peluru nyasar masuk ke kawasan permukiman.
Konflik Politik di Balik Pertempuran
Bentrokan terbaru merupakan bagian dari konflik politik dan keamanan yang semakin tajam antara pemerintah federal Somalia dan kubu Laftagareen mengenai kendali atas Negara Bagian South West.
Pasukan pemerintah federal sebelumnya mengambil alih Baidoa pada 30 Maret. Setelah kehilangan kendali atas kota tersebut, Laftagareen kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin South West State.
Laftagareen sebelumnya memimpin wilayah tersebut sejak 2018.
Reuters melaporkan pada Agustus bahwa pasukan federal Somalia berhasil mengusir pasukan oposisi dari Baidoa setelah pertempuran sengit. Saat itu, pasukan yang berhadapan dengan pemerintah merupakan kelompok yang loyal kepada Laftagareen.
Pemerintah Somalia menuduh kelompok pendukung Laftagareen bekerja sama dengan al-Shabab dalam menghadapi pasukan federal. Tuduhan tersebut menambah dimensi keamanan pada konflik politik yang sebelumnya berpusat pada perebutan kendali pemerintahan daerah.
Namun, hubungan operasional antara seluruh kelompok pendukung Laftagareen dan al-Shabab tidak dapat dipastikan secara independen.
Kota Strategis dan Pusat Pengungsian
Baidoa merupakan salah satu kota penting di Somalia dan berjarak sekitar 245 kilometer sebelah barat laut Mogadishu.
Kota tersebut juga menjadi pusat kemanusiaan penting bagi masyarakat Somalia. Lebih dari 500.000 orang yang mengungsi akibat konflik dan kekeringan berada di kawasan Baidoa dan sekitarnya.
Karena itu, setiap eskalasi pertempuran di kota tersebut berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih luas.
Pertempuran sebelumnya pada Agustus juga menyebabkan korban besar. Sedikitnya empat warga sipil tewas dan 98 orang terluka dalam pertempuran di dan sekitar Baidoa pada pertengahan Agustus, menurut data rumah sakit yang dikutip AP.
Warga Kembali Menghadapi Ketidakpastian
Bentrokan terbaru menunjukkan bahwa pengambilalihan Baidoa oleh pemerintah federal belum menyelesaikan perselisihan politik di South West State.
Pertempuran juga memperlihatkan bagaimana perselisihan politik antara pemerintah pusat dan elite regional dapat bercampur dengan ancaman dari al-Shabab, kelompok yang telah lama menjadi salah satu ancaman keamanan terbesar di Somalia.
Belum diketahui apakah bentrokan terbaru akan kembali meluas atau merupakan pertempuran singkat yang dapat dikendalikan oleh pasukan pemerintah.
Pemerintah Somalia kini menghadapi dua persoalan sekaligus: mempertahankan kendali atas Baidoa dan mencegah konflik politik tersebut menciptakan ruang baru bagi al-Shabab untuk memperkuat pengaruhnya.
Bagi warga Baidoa, persoalan tersebut memiliki konsekuensi langsung. Di tengah konflik politik dan ancaman kelompok bersenjata, mereka kembali harus menghadapi suara tembakan, mengungsi dari rumah, serta meningkatnya risiko menjadi korban pertempuran.





