InternasionalHeadline

Houthi Kuasai Pelabuhan Mocha, Jalur Dagang Dunia di Ambang Krisis Baru

×

Houthi Kuasai Pelabuhan Mocha, Jalur Dagang Dunia di Ambang Krisis Baru

Sebarkan artikel ini
Houthi Kuasai Pelabuhan Mocha, Jalur Dagang Dunia di Ambang Krisis Baru

ADEN — Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan telah menguasai kota pelabuhan strategis Mocha di pesisir Laut Merah, Yaman. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan dan pasokan energi dunia.

Reuters melaporkan, Kamis (10/9/2026), pasukan Houthi semakin mendekati kendali atas kawasan pesisir Yaman yang berbatasan langsung dengan Bab el-Mandeb. Empat sumber militer pemerintah Yaman menyebut pertempuran dengan pasukan yang didukung Arab Saudi semakin meningkat dan berpotensi kembali berkembang menjadi perang berskala penuh.

Mocha menjadi titik penting dalam perkembangan tersebut. Kota pelabuhan bersejarah itu berada sekitar 50 kilometer dari Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan kemudian menuju Samudra Hindia.

Bagi perdagangan global, persoalannya bukan semata siapa yang menguasai Mocha. Yang lebih dikhawatirkan adalah kemampuan Houthi memberikan tekanan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu chokepoint maritim dunia. Jalur ini menjadi bagian penting rute kapal yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Reuters mencatat sekitar 7 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.

BACA JUGA  Erupsi Gunung Sinabung Gagalkan Lawatan 51 Guru dan Staf Malaysia ke Medan, LOI TPI-SKKB Ditunda

Kekhawatiran pasar semakin besar karena gangguan di Bab el-Mandeb terjadi ketika jalur energi lain, Selat Hormuz, juga menghadapi tekanan akibat konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

Dengan demikian, dua jalur strategis perdagangan energi dunia kini sama-sama berada dalam situasi rawan.

Harga Minyak Melonjak

Pasar energi langsung merespons perkembangan tersebut.

Harga minyak mentah Brent pada Kamis melonjak sekitar 4 persen dan sempat mencapai US$105,26 per barel. Harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) juga menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.

Kenaikan tersebut tidak hanya dipicu oleh perkembangan di Yaman. Serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah membuat pelaku pasar semakin khawatir terhadap pasokan energi global.

Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters bahkan menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz pada Rabu turun menjadi hanya tujuh kapal, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya yang mencapai 14 kapal per hari.

Kondisi tersebut membuat setiap perkembangan militer di kawasan semakin cepat diterjemahkan pasar menjadi risiko ekonomi.

BACA JUGA  Banjir Dahsyat Nepal–China Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang, Ribuan Masih Hilang

Ancaman Baru bagi Pelayaran

Penguasaan Mocha juga memperkuat posisi Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah.

Kelompok tersebut sebelumnya telah berulang kali menyerang kapal dan fasilitas di kawasan Laut Merah. Serangan terhadap pelayaran internasional sejak akhir 2023 telah membuat banyak perusahaan pelayaran mengubah rute dan menghindari Laut Merah, sehingga perjalanan menjadi lebih panjang dan biaya angkutan meningkat.

Kini, dengan pertempuran kembali meningkat di wilayah pesisir Yaman, kekhawatiran muncul bahwa gangguan terhadap pelayaran dapat kembali membesar.

Houthi sendiri telah meningkatkan operasi militernya terhadap Arab Saudi dan menyatakan embargo maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi. Dampaknya mulai terasa pada sektor energi Saudi.

Produksi minyak Arab Saudi pada Agustus dilaporkan turun menjadi sekitar 6,2 juta barel per hari, terendah sepanjang tahun ini, sementara ekspornya turun ke sekitar 3,1 juta barel per hari.

Konflik Lokal, Dampak Global

Perkembangan di Mocha menunjukkan bagaimana perang Yaman yang berlangsung selama bertahun-tahun kembali berpotensi menjadi bagian dari konflik Timur Tengah yang jauh lebih luas.

BACA JUGA  Baku Tembak SBU dan GUR di Kyiv, Tiga Personel Intelijen Ukraina Terluka

Houthi merupakan kelompok yang bersekutu dengan Iran, sementara pemerintah Yaman yang diakui internasional mendapat dukungan Arab Saudi. Dalam beberapa hari terakhir, pertempuran antara kedua pihak meningkat di wilayah pesisir barat Yaman.

Associated Press melaporkan pasukan Houthi telah masuk ke Mocha dan membuat kemajuan di Provinsi Taiz. Pasukan yang didukung Saudi kemudian merespons dengan serangan udara.

Jika Houthi semakin menguasai pesisir menuju Bab el-Mandeb, risiko terhadap lalu lintas kapal komersial akan semakin besar.

Situasinya menjadi lebih serius karena Bab el-Mandeb dan Hormuz bukan sekadar titik di peta. Keduanya merupakan pintu masuk dan keluar bagi perdagangan energi serta barang antara kawasan Timur Tengah, Asia, Eropa dan Afrika.

Gangguan berkepanjangan di kedua jalur tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman, premi asuransi kapal, harga energi dan pada akhirnya tekanan inflasi di berbagai negara.

Karena itu, perebutan Mocha bukan lagi sekadar perkembangan dalam perang Yaman.

Ia berpotensi menjadi satu lagi titik api yang menghubungkan perang Timur Tengah dengan harga minyak, perdagangan dunia dan biaya hidup masyarakat global.