Nasional

Demo Belum Usai! Mahasiswa Lepas Almamater di Tugu Tani, Ancam Aksi Lebih Besar 28 Oktober

×

Demo Belum Usai! Mahasiswa Lepas Almamater di Tugu Tani, Ancam Aksi Lebih Besar 28 Oktober

Sebarkan artikel ini
Demo Belum Usai! Mahasiswa Lepas Almamater di Tugu Tani, Ancam Aksi Lebih Besar 28 Oktober
Demo Belum Usai! Mahasiswa Lepas Almamater di Tugu Tani, Ancam Aksi Lebih Besar 28 Oktober.

JAKARTA | Titik24.com

Gelombang demonstrasi mahasiswa di Jakarta belum berakhir. Setelah menggelar aksi simbolik di kawasan Tugu Proklamasi pada pagi hari, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) kembali turun ke jalan di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026), mulai pukul 15.00 WIB.

Aksi kali ini menjadi perhatian karena para mahasiswa memilih melepas jas almamater sebelum menyampaikan aspirasi. Langkah tersebut disebut sebagai simbol untuk meleburkan identitas kampus dan memperkuat solidaritas bersama masyarakat sipil.

Koordinator Sosial dan Politik BEM Universitas Indonesia (UI), Hafidz Hernanda, mengatakan keputusan untuk tidak mengenakan almamater bertujuan menciptakan gerakan yang lebih inklusif tanpa sekat antarkampus.

“Kali ini kawan-kawan dari BEM UI akan mengadakan aksi tidak menggunakan almamater sama sekali bersama dengan teman-teman mahasiswa agar kita bisa lebih inklusif dan bisa lebih membaur dengan masyarakat sipil,” ujar Hafidz.

BACA JUGA  Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau Mereda, Penerbangan Kualanamu Kembali Normal

Ia menegaskan, memasuki dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, mahasiswa ingin menyuarakan aspirasi sebagai bagian dari rakyat.

“Pada dua tahun Prabowo Gibran ini kita harus turun sebagai rakyat karena sejatinya kita adalah yang bisa bersuara lebih,” katanya.

Massa aksi diperkirakan mencapai 500 hingga 700 orang yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, UPN Veteran Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga.

Mahasiswa dari Kalimantan juga dilibatkan untuk menyampaikan aspirasi terkait dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu kehidupan masyarakat.

Namun, aksi di Tugu Tani bukan menjadi akhir dari rangkaian gerakan tersebut. Mahasiswa justru menyerukan mobilisasi massa yang lebih besar pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

BACA JUGA  BGN Peringatkan Calon Mitra MBG: Waspadai Oknum yang Minta Uang untuk Percepatan Pembukaan Dapur SPPG

Hafidz menyebut momentum tersebut sebagai kesempatan bagi generasi muda untuk menyampaikan kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum terselesaikan.

“Untuk tanggal 28 itu tepat kepada Sumpah Pemuda. Jadi kita menyerukan juga suara-suara generasi muda yang memang saat ini merasa sudah tertindas dan sudah cukup,” ujarnya.

Terkait pelaksanaan demonstrasi, Hafidz menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan surat pemberitahuan kepada kepolisian. Ia menekankan bahwa surat tersebut bukan permohonan izin, melainkan pemberitahuan mengenai kegiatan penyampaian pendapat di muka umum.

“Bila memang ada kawan-kawan yang ingin lebih dari jam 6 sore itu tidak apa-apa, itu hak kami sebagai rakyat. Kami pun memberi surat kepada kepolisian, itu bukan surat izin tapi bagaimanapun surat pemberitahuan. Karena aksi dan demonstrasi itu merupakan hak kita sebagai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan utama. Pertama, mendesak penetapan kebakaran hutan dan lahan serta banjir sebagai bencana nasional. Kedua, menuntut perbaikan tata kelola ekonomi dan pemulihan kepercayaan pasar.

BACA JUGA  . Ikrom Helmi Nasution Ucapkan Selamat Hari Santri Nasional 2026, Ajak Santri Perkuat Akhlak dan Nasionalisme

Ketiga, mendesak penghentian pembatasan kebebasan berpendapat. Keempat, mendorong pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima, menuntut penurunan biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik sekaligus pemerataan akses bagi masyarakat.

Aksi serupa juga disebut berlangsung di Yogyakarta dan Makassar. Sementara itu, pengamanan di sejumlah titik aksi di kedua wilayah tersebut melibatkan sekitar 3.000 personel gabungan.

Hingga berita ini ditulis, aksi mahasiswa di kawasan Tugu Tani dilaporkan berlangsung kondusif.

Rencana aksi lanjutan pada 28 Oktober mendatang pun menjadi perhatian. Mahasiswa berharap suara yang mereka sampaikan mendapat respons, sementara publik menantikan perkembangan gerakan tersebut serta tindak lanjut atas tuntutan yang diajukan.

Demonstrasi belum usai. Peringatan Hari Sumpah Pemuda berpotensi menjadi momentum berikutnya bagi mahasiswa untuk kembali menyuarakan aspirasi mereka.*(Red01)*