Religi

Umar bin Khattab: Ketika Kekuasaan Membuat Seorang Pemimpin Takut

×

Umar bin Khattab: Ketika Kekuasaan Membuat Seorang Pemimpin Takut

Sebarkan artikel ini
Umar bin Khattab: Ketika Kekuasaan Membuat Seorang Pemimpin Takut

Malam telah larut. Ketika sebagian orang telah terlelap, seorang lelaki berjalan seorang diri menyusuri jalan-jalan Madinah.

Di pundaknya ada karung berisi makanan.

Bukan pengawal yang membawanya. Bukan pula pelayan.

Lelaki itu adalah Umar bin Khattab, seorang Khalifah yang wilayah kekuasaannya begitu luas.

Ia sedang menuju rumah seorang janda yang diketahui hidup dalam kekurangan. Anak-anaknya menangis karena lapar. Umar membawa sendiri bahan makanan untuk mereka.

Dalam sebuah kisah yang masyhur, ketika pembantunya menawarkan diri untuk membawakan karung itu, Umar justru menolak.

Kurang lebih ia berkata, “Apakah engkau akan memikul bebanku pada hari kiamat?”

Kalimat itu memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kerendahan hati.

BACA JUGA  SEMAKIN BESAR KEWENANGAN, SEMAKIN BERAT AMANAH

Umar memahami bahwa jabatan adalah amanah.

Kekuasaan bukan sekadar hak untuk memerintah. Ia adalah tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, Umar tidak merasa terlalu tinggi untuk berjalan di tengah malam membawa makanan bagi rakyatnya. Ia tidak menganggap urusan perut seorang janda sebagai persoalan kecil. Baginya, ketika ada rakyat yang kelaparan sementara ia menjadi pemimpinnya, ada bagian dari tanggung jawab yang harus ia tunaikan.

Di situlah kelembutan seorang Umar terlihat.

Sosok yang dikenal tegas di hadapan kezaliman itu ternyata memiliki hati yang begitu mudah tersentuh oleh penderitaan rakyat.

Ia bisa keras terhadap ketidakadilan, tetapi lembut kepada mereka yang lemah.

Ia bisa berdiri kokoh sebagai pemimpin, tetapi menundukkan dirinya ketika berhadapan dengan amanah.

BACA JUGA  Tabligh Akbar Maulid Nabi di Masjid Quatul Muslimin, Rivai Nasution: Perkuat Persatuan dan Kepedulian Sosial

Bahkan dalam sejumlah riwayat tentang pengangkatannya sebagai khalifah, tergambar betapa berat Umar menerima tanggung jawab tersebut. Kekuasaan bukan sesuatu yang ia kejar dengan ambisi. Justru ia melihatnya sebagai beban yang sangat berat.

Sebab bagi Umar, menjadi pemimpin berarti bersiap menjawab pertanyaan yang jauh lebih berat daripada pertanyaan manusia.

Dari mana kekuasaan itu digunakan? Untuk siapa keputusan dibuat? Siapa yang terabaikan? Siapa yang dizalimi? Dan apa yang telah dilakukan ketika ada orang yang berada dalam kesusahan?

Itulah sebabnya seorang pemimpin yang benar-benar memahami amanah tidak akan mudah mabuk oleh kekuasaan.

Semakin besar kewenangannya, semakin besar pula rasa takutnya kepada pertanggungjawaban.

Kisah Umar mengajarkan bahwa ukuran seorang pemimpin bukan hanya seberapa tinggi kursinya, seberapa luas kekuasaannya, atau seberapa banyak orang yang tunduk kepadanya.

BACA JUGA  Bukan Sekadar Seremonial, Pemko Medan Dorong Remaja Masjid Al Ikhlas Perbanyak Program Positif

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar kepeduliannya kepada mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir.

Kursi akan berganti.

Kekuasaan akan berpindah tangan.

Tetapi amanah tidak pernah benar-benar hilang.

Ia akan mengikuti pemiliknya sampai ke hadapan Tuhan.

Dan mungkin karena itulah Umar berjalan sendirian pada malam itu—memikul karung makanan di pundaknya, tetapi sesungguhnya sedang memikul sesuatu yang jauh lebih berat:

rasa takut bahwa ada rakyat yang menderita sementara ia gagal menunaikan amanah sebagai pemimpin.

“PENGADU DOMBA ITU BERNAMA HOAKS”
Religi

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ…