Religi

SEMAKIN BESAR KEWENANGAN, SEMAKIN BERAT AMANAH

×

SEMAKIN BESAR KEWENANGAN, SEMAKIN BERAT AMANAH

Sebarkan artikel ini
SEMAKIN BESAR KEWENANGAN, SEMAKIN BERAT AMANAH

Ada orang yang pekerjaannya membuat keputusan. Tetapi ia sering lupa bahwa di balik keputusan itu ada kehidupan manusia.

Satu tanda tangan bisa menentukan nasib seseorang. Satu putusan bisa memisahkan sebuah keluarga.

Satu rekomendasi bisa membuat seseorang mendapatkan kesempatan atau kehilangannya.

Satu kebijakan bisa menolong ribuan orang, tetapi juga bisa menyulitkan mereka.

Karena itu, jangan pernah menganggap ringan kewenangan yang Allah titipkan.

Pemimpin, hakim, jaksa, aparat, pejabat birokrasi, pimpinan perusahaan, bahkan siapa pun yang memiliki kuasa untuk menentukan nasib orang lain—semuanya sedang memegang amanah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)

Perhatikan: amanah dan keadilan.

Sebab kewenangan tanpa keadilan dapat berubah menjadi kezaliman.

BACA JUGA  Bukan Sekadar Seremonial, Pemko Medan Dorong Remaja Masjid Al Ikhlas Perbanyak Program Positif

Bagi kita, sebuah berkas mungkin hanya satu dari sekian banyak berkas.

Tetapi bagi orang yang namanya tertulis di sana, mungkin itulah perkara terpenting dalam hidupnya.

Bagi seorang pejabat, penundaan mungkin hanya satu hari.

Bagi rakyat kecil, satu hari itu bisa berarti kehilangan pekerjaan, kesempatan, atau hak.

Bagi seorang hakim, sebuah putusan mungkin hanya akhir dari persidangan.

Tetapi bagi pihak yang berperkara, putusan itu bisa menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali berbeda.

Maka jangan hanya bertanya:

“Apakah saya berwenang mengambil keputusan ini?”

Tanyakan pula:

“Apakah keputusan ini adil?”

Dan tanyakan lebih dalam:

“Jika saya berada di posisi orang yang menerima akibatnya, apakah saya masih menganggap keputusan ini benar?”

Jangan berlindung di balik kalimat:

“Saya hanya menjalankan tugas.”

BACA JUGA  PERSATUAN DAN KEDAMAIAN

Karena kewenangan tetap melahirkan pertanggungjawaban.

Aturan harus ditegakkan, prosedur harus dijalankan, tetapi hati tetap harus dijaga agar tidak menjadi alat untuk menzalimi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan biarkan manusia berubah menjadi sekadar angka, nomor perkara, berkas, antrean, bawahan, atau target.

Di balik semuanya ada manusia.

Ada keluarga.

Ada harapan.

Ada kehidupan.

Dan mungkin mereka tidak punya kekuatan untuk melawan keputusan kita.

Jangan mengira diam berarti tidak terluka.

Jangan mengira tidak mampu membalas berarti tidak ada yang akan menuntut.

Orang yang tidak mampu mengadu kepada manusia masih memiliki Allah untuk mengadukan kezalimannya.

Jabatan akan berakhir.

Kursi akan berganti.

Seragam akan dilepas.

Kekuasaan akan berpindah.

BACA JUGA  JANGAN BIARKAN UMUR BERTAMBAH, TANPA AMAL IBADAH

Tetapi akibat dari keputusan kita mungkin tetap hidup dalam kehidupan orang lain.

Karena itu, semakin besar kewenangan yang diberikan kepada kita, seharusnya semakin besar pula kehati-hatian kita.

Jangan bangga karena memiliki kuasa untuk menentukan nasib orang lain.

Takutlah karena Allah akan bertanya bagaimana kuasa itu digunakan.

Sebab suatu hari kita tidak lagi duduk sebagai pemimpin, hakim, pejabat, aparat, jaksa, atau pimpinan.

Kita hanya akan menjadi seorang hamba di hadapan Allah.

Saat itu, tidak ada jabatan yang dapat menyelamatkan.

Yang ada hanya amanah dan bagaimana kita menunaikannya.

Semakin besar kewenangan, semakin berat amanah.

Semakin banyak manusia bergantung pada keputusan kita, semakin besar kewajiban kita untuk berlaku adil.

Maka jangan takut kehilangan jabatan karena berlaku adil.

Takutlah kehilangan keadilan demi mempertahankan jabatan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

“PENGADU DOMBA ITU BERNAMA HOAKS”
Religi

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ…