TIRANA | Titik24.com
Gelombang demonstrasi mahasiswa di Albania berubah menjadi kerusuhan setelah ribuan demonstran bentrok dengan aparat keamanan di ibu kota Tirana. Aksi yang dipicu persoalan biaya pendidikan, kondisi universitas, dan dugaan korupsi tersebut juga berkembang menjadi tekanan politik terhadap Perdana Menteri Edi Rama.
Pada Rabu (14/10/2026), demonstrasi yang melibatkan puluhan ribu mahasiswa di Tirana diwarnai pelemparan batu ke arah polisi dan pembakaran sejumlah bangunan. Gedung Kementerian Pendidikan serta dua kantor cabang bank dilaporkan terbakar di tengah meningkatnya ketegangan.
Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan massa. Sejumlah tempat usaha mengalami kerusakan, sementara kerusuhan juga dilaporkan meluas ke lingkungan universitas di kota Elbasan dan Shkodra.
Menurut laporan Reuters, para mahasiswa memprotes tingginya biaya pendidikan tinggi, buruknya fasilitas kampus, terbatasnya bantuan keuangan, serta minimnya peluang memperoleh pekerjaan setelah lulus. Mereka menilai pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan yang dihadapi generasi muda.
Tuntutan demonstran tidak berhenti pada reformasi pendidikan. Sebagian peserta aksi juga mendesak Edi Rama mundur dari jabatannya, dengan menuding pemerintah tidak cukup serius menangani persoalan korupsi yang melibatkan pejabat dan proyek pembangunan kontroversial.
Ketidakpuasan publik sebelumnya telah muncul dalam rangkaian demonstrasi damai selama musim panas. Salah satu pemicunya adalah rencana pembangunan resor mewah di kawasan pesisir selatan Albania yang dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Proyek tersebut menuai kontroversi dan menghadapi persoalan hukum.
Pada Kamis (15/10/2026), aksi protes berlanjut untuk hari ketiga. Rama menolak desakan agar dirinya mengundurkan diri, tetapi menyatakan pemerintah bersedia mendengarkan keluhan masyarakat dan membahas persoalan biaya pendidikan.
Rama juga menegaskan bahwa tuntutan yang sah tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan, merusak fasilitas publik, atau membahayakan keselamatan warga. Pemerintah Albania membantah tuduhan korupsi, sementara aparat memperingatkan bahwa pelaku pembakaran dan perusakan akan dimintai pertanggungjawaban hukum.
Kerusuhan tersebut menempatkan pemerintah Albania di tengah tekanan untuk menangani tuntutan mahasiswa sekaligus memulihkan ketertiban. Persoalan pendidikan, kesempatan kerja, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan menjadi isu yang menonjol dalam perkembangan politik negara Balkan tersebut.
Meski tuntutan pengunduran diri perdana menteri terus disuarakan oleh sebagian demonstran, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons pemerintah, proses penegakan hukum, dan kemungkinan dialog untuk menyelesaikan persoalan yang mendasari aksi.*(Red01)*





